- I Ketut Sudomo tekun menjadi petani kakao di Jembrana, Bali, sejak 1986 hingga kini berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
- Lonjakan harga kakao global dan bantuan koperasi membuat anak Sudomo berhenti bekerja sebagai pemandu wisata untuk melanjutkan usaha pertanian.
- Kebun Sudomo menerapkan sistem tumpang sari dan peternakan kambing organik untuk menjaga kesuburan tanah serta meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.
SuaraBali.id - Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika I Ketut Sudomo mulai mengayunkan cangkulnya. Dengan topi caping yang menutupi wajah dan sepasang sepatu bot yang mulai kusam dimakan usia, pria 75 tahun itu berjalan menyusuri deretan pohon kakao di halaman rumahnya di Banjar Modingsari, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana.
Sejak pukul 06.00 WITA, tangannya tak berhenti membersihkan gulma, menggemburkan tanah, dan memeriksa satu per satu buah kakao yang mulai menguning.
Rutinitas itu baru berakhir menjelang petang, sekitar pukul 18.00 WITA.
Di saat banyak lahan pertanian di Bali berubah menjadi vila, hotel, dan berbagai akomodasi wisata, Sudomo memilih tetap bertahan.
Selama lebih dari empat dekade, ia menolak meninggalkan tanah yang telah menjadi sumber penghidupannya.
Penghasilan dari bisnis properti yang berkembang pesat di Pulau Dewata tak pernah menggoyahkan pilihannya. Ia justru memilih jalan sunyi sebagai petani kakao, merawat satu hektare dari total tiga hektare kebun miliknya sejak 1986.
Bermodalkan ketekunan dan pengalaman, ayah tiga anak yang hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar itu kini menjadi salah satu petani kakao senior yang masih aktif bekerja setiap hari di Kabupaten Jembrana.
“Intinya saya senang. Karena senang dan mencintai, maka lelah tak terasa,” ujarnya Kamis (30/7/2026).
Beruntung, kini Sudomo tak sendiri, putranya Kadek Dwi, kini ikut membantunya menggarap kebun kakao yang mulai menjanjikan.
Baca Juga: Peringatan Hari Mangrove Sedunia, 15 Ribu Bibit Pohon Disebar di Batu Lumbang Tahura Ngurah Rai
Sebagaimana diketahui, kakao kini menjelma menjadi komoditas unggulan yang harganya mulai tinggi di pasar global. Biji kakao premium bahkan sempat menyentuh level puncak pada tahun 2024-2025 yang mana hal ini juga berdampak positif terhadap penjualan biji kakao basah di tingkat petani.
Menurut Sudomo, harga biji kakao basah yang semula hanya sekitar Rp15 ribu per kilogram sempat melonjak hingga Rp45 ribu-Rp50 ribu sebelum kembali berfluktuasi.
“Setelah terjadi suatu kenaikan yang memang sangat menjanjikan sekali kepada kami sebagai petani kakao, itu jauh melampaui, katakanlah kalau kami bilang jadi harganya mahal sekali,” jelasnya.
Momen ini menjadi titik balik usaha perkebunan kakao di Jembrana yang membuat para petani komoditas lainnya melirik budidaya kakao premium dan melakukan alih fungsi lahan.
Kenaikan harga kakao juga membuat putra Sudomo, Kadek Dwi, mantap meninggalkan pekerjaannya sebagai pemandu wisata turis Jepang di Denpasar untuk pulang kampung dan meneruskan kebun keluarga.
Sejatinya Kadek sudah mulai menyadari bekerja di bidang pariwisata amat rentan. Terutama sejak adanya pandemi Covid-19 yang membuat kunjungan turis menurun. Kadek akhirnya pulang pada tahun 2021 dan ikut menjadi penekun kebun kakao hingga saat ini.
“Selain itu bapak sudah tua, kalau semua anaknya kerja di hotel, lalu siapa yang meneruskan?” katanya.
Hingga saat ini, Sudomo memanfaatkan 1 hektare lahan di rumahnya tersebut khusus untuk tanaman kakao. Bila musim panen tiba, Sudomo yang kini dibantu oleh Yayasan Kalimajari melalui Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) mampu mengangkut 500 kilogram biji kakao basah untuk difermentasi dan dijual.
Sudomo yang merupakan petani tradisional pun kini bisa mulai hidup tenang karena kakaonya mampu membiayai kehidupannya sehari-hari, membiayai sekolah anak bahkan uangnya digunakan juga untuk mengembangkan usahanya dengan menambah lahan sebagai aset berharga.
Menjelma Menjadi Lahan Tumpang Sari
Bertani dengan hanya mengandalkan satu komoditas seperti halnya kakao bisa jadi sangat rentan. Apalagi cuaca di Indonesia yang kini tidak menentu dan harga pasaran kakao yang bisa berubah sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman bagi keberlangsungan kebun Sudomo ke depannya.
Untuk itu, Sudomo tidak hanya mengandalkan satu tanaman dan melakukan diversifikasi dalam satu lahan.
Bila satu hektare lahan Sudomo ditanami kakao, 2 hektarenya lagi ia gunakan untuk tanaman lain. Di antaranya kelapa dan pisang. Uniknya vegetasi yang berbeda-beda ini bukannya mengganggu kehidupan tanaman kakao tapi justru menjadi pendukung.
Menurut Direktur Yayasan Kalimajari, Agung Widyastuti konsep ini dinamakan dynamic agroforesty atau dalam bahasa lokal disebut Tumpang Sari yang merupakan sistem pengolahan lahan dengan menggabungkan penanaman pohon atau tanaman berkayu dengan tanaman pertanian atau peternakan secara bersamaan di atas lahan yang sama.
Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Hal ini memungkinkan petani tidak menggantungkan hidup pada hasil dari kakao saja. Dan bisa mengamankan pendapatan petani dan keluarga bila terjadi perubahan atau belum musim panen kakao,” jelasnya dalam acara media visit di kebun Sudomo.
Ia mencontohkan di Bali sangat membutuhkan daun pisang untuk membuat canang, bungkus Nasi Jinggi dan lainnya. Pisangnya bisa dijual atau dikonsumsi. Sedangkan limbah daun pisangna bisa dijadikan kompos atau melembabkan tanah ketika kemarau panjang.
Sedangkan kelapa juga bisa dimanfaatkan daunnya, buahnya hingga batang pohonnya. Bagusnya lagi keragaman vegetasi ini bisa menjadi penaung kakao dan mempengaruhi hasil biji kakao itu sendiri.
Tanaman ini dinilai tidak berlawanan bahkan bisa membuat keunikan rasa dan aroma yang unik.
Tak hanya sampai di situ, lahan Sudomo ini juga menerapkan dari alam kembali ke alam. Di bagian lainnya, ia juga melakukan peternakan kambing. Ada banyak kambing yang dipelihara di kandang.
Pakan kambingnya pun dibuat dari limbah cacahan kakao dicampur limbah daun pisang dan lamtoro yang membuat kambing-kambing tersebut kata Sudomo makan dengan sangat lahap. Selain itu kotorannya pun dimanfaatkan sebagai pupuk kandang yang membuat tanah kebunnya semakin subur.
Tak hanya pupuk kandang, Sudomo juga memanfaatkan pupuk organik lainnya dari kasgot dari maggot sampah di Denpasar dan Badung.
Tidak berhenti sampai di situ, kambingnya sendiri pun membawa nilai ekonomi karena bisa dijual sebagai hewan kurban saat hari raya.
“Peternakan kambing sudah jalan 5 tahun dan kemarin Iduladha bisa dimanfaatkan,” kenang Sudomo. Ia menghargai 8 ekor kambing kurbannya masing-masing Rp 3 juta rupiah.
Praktis, lahan di rumah milik Sudomo ini tidak hanya membawa nilai ekonomis tapi juga menerapkan Asta Kosala Kosali dan menyeimbangkan hubungan manusia, Tuhan dan alam sebagaimana semangat prinsip Tri Hita Karana yang menjadi falsafah orang Bali.
Hal ini pun dibenarkan oleh Agung Widyastuti karena yayasannya yang juga didukung banyak non government organization (NGO) ini turut membantu pelatihan, pemasaran hingga penjualan komoditas di lingkungan anggota koperasi KSS.
Peran koperasi KSS bagi keberlanjutan cukup aktif karena selain membantu petani mempertemukan dengan pembelinya langsung. Koperasi ini juga memonitor kualitas premium dari biji kakao itu sendiri sehingga dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi.
“Satu hal yang menjadi concern, adalah karena kami tidak menjual mentah, kami memfokuskan biji yang telah difermentasi. Dari situlah keunikan dan nilai jualnya,” kata Agung.
Selain itu juga memastikan kakao ini memanfaatkan bahan-bahan organik dalam pembudidayaanya seperti pupuk dan pestisida organik.
Single Origin yang Menarik di Pasar Dunia
Cokelat dari hasil pengolahan fermentasi biji kakao di Jembrana mempunyai keunikan tersendiri dan di dunia hanya ada di Jembrana.
Hal ini diungkapkan oleh Co-Founder Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla. Selama ini Pipiltin Cocoa menjadi buyer setia dari biji kakao asal Jembrana yang dipasarkan di Indonesia maupun luar negeri seperti Jepang dan Eropa.
“Kakao di Jembrana ini punya rasa yang unik. Ada fruity, spicy dan after taste-nya ada rasa honey. Ini di seluruh dunia hanya ada di Jembrana,” terangnya.
Pipiltin selama ini juga mau membeli dengan harga yang lebih tinggi. Menurut Tissa keunikan ini bukan hanya di rasa namun ada pada cerita sustainability dari petaninya.
“Secara volume memang mungkin lebih kecil dibanding daerah penghasil cokelat lainnya di Indonesia maupun dunia, tapi valuenya ini yang besar,” jelas Tisa.
Ia pun mendukung penuh bentuk ekosistem budidaya kakao di Jembrana yang mengutamakan kolaborasi dari hulu ke hilir, karena menurutnya kolaborasi adalah kunci. Tanpa kolaborasi, sustainabilty hanya menjadi wacana.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
- Sempat Nganggur Gegara Timnas Indonesia, Roberto Mancini Resmi Latih Italia
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Melihat Budidaya Kakao Jembrana, Emas Cokelat Yang Memikat Pasar Jepang Dan Eropa
-
WNA Kembali Berulah Indikasi Diskriminasi WNI di Bali, Imigrasi Diminta Bertindak Tegas
-
Alasan Polisi Tambah Pasal Pidana pada Kasus Santri Terbakar
-
Guru SD di Buleleng Jadi Tersangka Pencabulan Siswi
-
Transformasi BRIvolution Reignite Melaju Pesat, Perkuat Kontribusi Danantara bagi Perekonomian