Muhammad Yunus | Eviera Paramita Sandi
Jum'at, 31 Juli 2026 | 12:57 WIB
Petani Kakao, I Ketut Sudomo di kebunnya yang terletak di Banjar Modingsari, Desa Candikusuma, kecamatan Melaya, Jembrana, Bali [Suara.com/Eviera Paramita Sandi]
Baca 10 detik
  • I Ketut Sudomo tekun menjadi petani kakao di Jembrana, Bali, sejak 1986 hingga kini berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
  • Lonjakan harga kakao global dan bantuan koperasi membuat anak Sudomo berhenti bekerja sebagai pemandu wisata untuk melanjutkan usaha pertanian.
  • Kebun Sudomo menerapkan sistem tumpang sari dan peternakan kambing organik untuk menjaga kesuburan tanah serta meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

SuaraBali.id - Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika I Ketut Sudomo mulai mengayunkan cangkulnya. Dengan topi caping yang menutupi wajah dan sepasang sepatu bot yang mulai kusam dimakan usia, pria 75 tahun itu berjalan menyusuri deretan pohon kakao di halaman rumahnya di Banjar Modingsari, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana.

Sejak pukul 06.00 WITA, tangannya tak berhenti membersihkan gulma, menggemburkan tanah, dan memeriksa satu per satu buah kakao yang mulai menguning.

Rutinitas itu baru berakhir menjelang petang, sekitar pukul 18.00 WITA.

Di saat banyak lahan pertanian di Bali berubah menjadi vila, hotel, dan berbagai akomodasi wisata, Sudomo memilih tetap bertahan.

Selama lebih dari empat dekade, ia menolak meninggalkan tanah yang telah menjadi sumber penghidupannya.

Penghasilan dari bisnis properti yang berkembang pesat di Pulau Dewata tak pernah menggoyahkan pilihannya. Ia justru memilih jalan sunyi sebagai petani kakao, merawat satu hektare dari total tiga hektare kebun miliknya sejak 1986.

Bermodalkan ketekunan dan pengalaman, ayah tiga anak yang hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar itu kini menjadi salah satu petani kakao senior yang masih aktif bekerja setiap hari di Kabupaten Jembrana.

Petani Kakao, I Ketut Sudomo saat melakukan panen di kebunnya yang terletak di Banjar Modingsari, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana. [Suara.com/ Eviera Paramita Sandi]

“Intinya saya senang. Karena senang dan mencintai, maka lelah tak terasa,” ujarnya Kamis (30/7/2026).

Beruntung, kini Sudomo tak sendiri, putranya Kadek Dwi, kini ikut membantunya menggarap kebun kakao yang mulai menjanjikan.

Baca Juga: Peringatan Hari Mangrove Sedunia, 15 Ribu Bibit Pohon Disebar di Batu Lumbang Tahura Ngurah Rai

Sebagaimana diketahui, kakao kini menjelma menjadi komoditas unggulan yang harganya mulai tinggi di pasar global. Biji kakao premium bahkan sempat menyentuh level puncak pada tahun 2024-2025 yang mana hal ini juga berdampak positif terhadap penjualan biji kakao basah di tingkat petani.

Menurut Sudomo, harga biji kakao basah yang semula hanya sekitar Rp15 ribu per kilogram sempat melonjak hingga Rp45 ribu-Rp50 ribu sebelum kembali berfluktuasi.

“Setelah terjadi suatu kenaikan yang memang sangat menjanjikan sekali kepada kami sebagai petani kakao, itu jauh melampaui, katakanlah kalau kami bilang jadi harganya mahal sekali,” jelasnya.

Momen ini menjadi titik balik usaha perkebunan kakao di Jembrana yang membuat para petani komoditas lainnya melirik budidaya kakao premium dan melakukan alih fungsi lahan.

Kenaikan harga kakao juga membuat putra Sudomo, Kadek Dwi, mantap meninggalkan pekerjaannya sebagai pemandu wisata turis Jepang di Denpasar untuk pulang kampung dan meneruskan kebun keluarga.

Sejatinya Kadek sudah mulai menyadari bekerja di bidang pariwisata amat rentan. Terutama sejak adanya pandemi Covid-19 yang membuat kunjungan turis menurun. Kadek akhirnya pulang pada tahun 2021 dan ikut menjadi penekun kebun kakao hingga saat ini.

Load More