- Penyidik Ditres PPA-PPO Polda NTB memeriksa dua tersangka kasus santri terbakar di pondok pesantren Lombok Tengah pada 20 Juli 2026.
- Kedua tersangka adalah seorang anak berinisial MR dan pimpinan pondok pesantren berinisial AMR atas insiden 13 Desember 2025.
- Kasus kelalaian ini mengakibatkan satu santri meninggal dunia dan dua santri lainnya mengalami luka bakar cukup serius.
SuaraBali.id - Penyidik Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA-PPO) Polda Nusa Tenggara Barat, memeriksa dua tersangka kasus santri terbakar dalam insiden yang terjadi di salah satu pondok pesantren, Kabupaten Lombok Tengah.
Pemeriksaan ini dibenarkan oleh kuasa hukum dari tersangka anak inisial MR (15), Aan Ramadhan yang kini masih mendampingi kliennya di Mapolda NTB.
"Ini (pemeriksaan) masih berjalan, lagi istirahat sekarang," ujarnya, Senin 20 Juli 2026.
Sejak menjalani pemeriksaan yang berlangsung dari pagi sekitar pukul 10.00 Wita, Aan mengatakan penyidik memintai keterangan seputar pendidikan MR.
"Belum ada masuk ke ranah kasus, masih melihat psikologis," ucapnya.
Dalam giat pemeriksaan perdana sebagai tersangka tersebut, Aan memastikan bahwa kliennya yang berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH) mendapat pendampingan dari pekerja sosial (peksos).
"Karena tersangka anak, pemeriksaan didampingi peksos," katanya.
Begitu juga disampaikan pihak kuasa hukum tersangka AMR yang merupakan pimpinan pondok pesantren tempat insiden terjadi.
Emil Siain selaku kuasa hukum membenarkan bahwa kedatangan kliennya ke Mapolda NTB hari ini dalam rangka memenuhi panggilan penyidik untuk pemeriksaan sebagai tersangka.
Baca Juga: Operasi Senyap KPK Berlanjut, Giliran Bupati Lombok Barat Ditangkap!
"Iya, sebagai tersangka," ujar Emil.
Perihal materi pemeriksaan, ia memilih untuk tidak menyampaikan ke publik dengan alasan hal tersebut sudah menjadi kewenangan penyidik.
Direktur Reserse PPA-PPO Polda NTB, Kombes Pol. Ni Made Pujewati sebelumnya menyampaikan bahwa pemeriksaan ini bagian dari tindak lanjut penyidikan dari Polres Lombok Tengah.
Kepolisian menetapkan keduanya sebagai tersangka dalam insiden pada 13 Desember 2025 tersebut dengan menerapkan Pasal 359 atau Pasal 360 ayat (1) KUHP junto Pasal 474 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP baru.
Pasal ini berkaitan tentang kelalaian yang mengakibatkan meninggal dunia dan luka berat dengan ancaman maksimal lima tahun penjara.
Kepolisian mengungkap kasus ini berdasarkan tindak lanjut laporan dari pihak korban pada Juni 2026.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kena OTT KPK, PAN Langsung Pecat Lalu Ahmad Zaini Sebagai Kader
-
Dua Tersangka Kasus Santri Terbakar Diperiksa Polisi
-
Penembak Sekuriti dan Warga Negara Maroko di Bali Punya Izin Senpi
-
Operasi Senyap KPK Berlanjut, Giliran Bupati Lombok Barat Ditangkap!
-
Balon Gas Meledak Saat Perayaan Hari Koperasi di Bali, 11 Orang Terluka