- Seorang santri korban pembakaran di Lombok Tengah sedang menjalani persiapan operasi lanjutan di RSUD Provinsi NTB.
- Tim dokter berencana melakukan prosedur cangkok kulit akibat luka bakar luas yang diderita pasien tersebut.
- Tindakan operasi akan segera dilaksanakan setelah kondisi pasien dinyatakan optimal melalui serangkaian pemeriksaan medis menyeluruh.
SuaraBali.id - Santri yang menjadi korban pembakaran di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW, Kabupaten Lombok Tengah, harus kembali di operasi.
Seluruh penanganan medis lanjutan terhadap korban kini dipusatkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Medis, dr. I Made Arya Utara, menyatakan bahwa pihaknya tengah mematangkan berbagai persiapan umum menjelang tindakan operasi lanjutan tersebut.
"Saat ini kami sedang melakukan persiapan operasi secara umum," ujar Arya saat memberikan keterangan pada Rabu (15/7/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah dokter spesialis akan dilibatkan secara kolaboratif dalam operasi besar ini, mulai dari dokter spesialis anestesi hingga dokter spesialis anak.
Tindakan medis baru akan dieksekusi setelah mendapatkan persetujuan dan rekomendasi dari seluruh tim dokter yang terlibat.
"Kondisi pasien harus benar-benar optimal sebelum tindakan dilakukan," tambahnya.
Tindakan medis utama yang akan diberikan kepada korban adalah prosedur cangkok kulit (skin grafting).
Metode ini dilakukan dengan mengambil jaringan kulit sehat dari bagian tubuh lain untuk menutup area yang rusak akibat luka bakar.
Baca Juga: Santri Korban Pembakaran Mulai Menulis Tapi Malu Masuk Sekolah
"Kulit yang mengalami luka bakar parah sudah tidak bisa tumbuh kembali. Karena itu, kami akan mengambil kulit sehat dari bagian tubuh korban yang lain untuk ditempelkan di area luka," jelas Arya.
Mengingat luka bakar yang diderita korban sangat luas hingga mencapai hampir 80 persen, tim medis harus sangat selektif dalam memilih area donor kulit yang masih sehat.
"Kami akan memilih dengan saksama. Tidak seluruh area 80 persen itu langsung ditangani sekaligus. Fokus utama kami adalah bagian-bagian tubuh dengan luka bakar yang paling dalam, di sanalah pencangkokan akan diprioritaskan," urainya.
Selain pencangkokan kulit, tim dokter juga menaruh perhatian serius pada penyelamatan fungsi salah satu tangan korban yang terdampak parah.
Pasca-operasi nanti, pasien diwajibkan menjalani program fisioterapi secara berkala demi menjaga fungsi gerak motorik agar tidak mengalami kekakuan (kontraktur).
Terkait jadwal pelaksanaan operasi, dr. Arya menegaskan pihak rumah sakit tidak bisa terburu-buru dan harus melalui prosedur skrining yang ketat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Bule Geber Motor Depan Dirjen Imigrasi, Ketahuan Overstay Akhirnya Dideportasi dari Bali
-
Pura Desa Adat di Buleleng Terbakar, Beringin Berusia Ratusan Tahun Ikut Hangus
-
BRImo Taiwan Sabet Penghargaan Inovasi 2026, Permudah Transaksi PMI di Luar Negeri
-
Sungai-sungai di Mataram Berubah Jadi 'Lautan Sampah' Saat Kemarau
-
DPLK BRI Kantongi Kehati ESG Award 2026 Berkat Konsistensi Terapkan Prinsip ESG