Muhammad Yunus
Selasa, 30 Juni 2026 | 19:07 WIB
Kebun sayur di Kabupaten Lombok Timur [Suarabali.id/Buniamin]
Baca 10 detik
  • Harga komoditas pertanian di Lombok Timur anjlok akibat berkurangnya permintaan pasar selama masa libur sekolah berlangsung.
  • Penurunan harga terjadi karena banyaknya dapur program makan siang bergizi yang tutup sementara di wilayah tersebut.
  • Dinas Perdagangan NTB memantau fluktuasi harga komoditas dan meminta produsen mengontrol stok agar kondisi pasar kembali seimbang.

SuaraBali.id - Harga sejumlah komoditas pertanian akhir-akhir ini mengalami penurunan. Kondisi ini dikeluhkan oleh para petani sayur di Lombok.

Salah seorang petani sayur di Kabupaten Lombok Timur, Kusuma mengatakan pada saat baru panen harga kembang kol mencapai Rp15 ribu per kg.

Namun angka ini tidak berlangsung lama dan mulai turun menjadi Rp13 ribu per kg. Tidak berhenti disitu, penurun harga kembali terjadi beberapa pekan ini menjadi Rp10 ribu per kg.

Untuk harga sebelumnya yaitu Rp5 ribu per kg di tingkat petani dan saat ini bertahan di angka Rp3 ribu per kg.

“Ya itu harganya di tingkat petani yang terus turun dari Rp15 ribu turun ke Rp13 ribu rturun ke Rp10 ribu ke Rp5 ribu sekarang Rp3 ribu perkilo,” katanya Selasa (30/6/2026) kepada Suara.com.

Menurunya harga ini disebut karena stok melimpah ditingkat pedagang. Akibat dari permintaan ditingkat pedagang yang mulai menurun karena banyak satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur MBG yang tutup.

“Kalau untuk pembelian ditingkat petani lancar dan setiap produksi selalu habis. Tapi memang harganya yang sangat anjlok,” ungkapnya.

Ia mengatakan, selama SPPG banyak menyajikan menu nasi dengan lauk pauk dari sayur dan daging, harga salah satu komoditas pertanian ini mencapai Rp13 ribu hingga Rp10 ribu per kg.

“Tapi saat ini saya tanya kepada para pedagang yang membeli sayur sama saya, karena permintaan dapur MBG sudah mulai berkurang,” ujar Kusuma.

Baca Juga: Warisan Leluhur Disulap Jadi Camilan Sehat, Produk UMKM Lombok Ini Tembus Pasar Internasional

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB, Lalu Wiranata, mengatakan berdasarkan dari pemantauan yang dilakukan sejumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur MBG banyak yang sudah tutup.

Apalagi pada musim libur sekolah ini pendistribusian program makan siang bergizi gratis (MBG) diliburkan selama tiga mingguan.

Kondisi ini mengakibatkan permintaan kebutuhan pokok terutama komoditas pertanian mulai menurun.

"Salah satunya itu karena pengurangan permintaan dari dapur MBG. Dan isunya itu benar. Kita sudah cek di lapangan," katanya.

Misalnya untuk bawang merah dari Rp33 ribu per kg awal pekan lalu menjadi Rp30 ribu. Selain itu, dari Rp25 per kg menjadi Rp20 ribu per kg, cabai rawit merah dari Rp45 ribu per kg menjadi Rp40 ribu per kg.

Sementara untuk daging ayam dari Rp33 ribu per kg menjadi Rp32 ribu per kg.

Load More