- Pengamat hukum Joko Jumadi mengungkap tiga kasus dugaan asusila terhadap anak dan perempuan yang melibatkan oknum anggota serta calon siswa Polri.
- Kasus tersebut terjadi di wilayah Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah dengan modus persetubuhan, pemerkosaan, serta penyebaran konten pornografi.
- Proses hukum ketiga kasus asusila tersebut kini telah ditingkatkan statusnya ke tahap penyidikan oleh pihak kepolisian wilayah setempat.
Namun, dalam proses menuju ke pernikahan, kata dia, terduga pelaku selingkuh sehingga korban membatalkan niatnya.
"Tidak lama kemudian, ternyata terduga pelaku ini dilaporkan ke Polda NTB atas dugaan pemerkosaan dan TPKS (tindak pidana kekerasan seksual). Laporannya oleh korban mahasiswi," ujarnya.
Mahasiswi tersebut mengaku menjadi korban kekerasan seksual setelah mendapat ancaman dari terduga pelaku.
"Ancamannya secara verbal. Itu kejadiannya di wilayah Ampenan, di kos-kosan, Laporannya tanggal 23 Februari 2026," kata Joko.
Selanjutnya, kasus ketiga dengan lokus kejadian di wilayah hukum Polres Lombok Tengah. Ia mengungkapkan bahwa terduga pelakunya masih berstatus Calon Siswa (Casis) Polri, dan korban juga berstatus pelajar.
"Kalau yang di Lombok Tengah ini, kasusnya casis menyebarkan foto vulgar mantan pacarnya. Jadi, terkait dugaan pelanggaran ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) dan pornografi," ucapnya.
Dari hasil pendampingan LPA terhadap korban, terungkap modus terduga pelaku menyebarkan foto vulgar tersebut.
"Modusnya itu karena tidak terima diputusin, kemudian menyebarkan foto vulgar mantannya, foto setengah badan, bagian atas," ujarnya.
Dengan munculnya tiga kasus yang kini sudah berjalan di tahap penyidikan, Joko berharap persoalan ini dapat menjadi bahan perhatian dan evaluasi publik, khususnya di tubuh Polri.
Baca Juga: Tren Femisida Seksual Meningkat di 2025: Korban Didominasi Perempuan Muda hingga Anak
Ia pun menegaskan bahwa LPA maupun Koalisi Anti Kekerasan Seksual NTB, tempat dirinya bernaung dalam memberikan perlindungan terhadap korban anak, menaruh atensi atas persoalan hukum yang terjadi.
"Ya, seharusnya polisi yang mengayomi dan melindungi, kok malah jadi pelaku," kata Joko.
Berita Terkait
Terpopuler
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- 9 Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah dan Menghilangkan Flek Hitam
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Tantowi Yahya: China Jauh di Depan dalam AI, Mahasiswa Bali Didorong Belajar ke Tsinghua
-
5 Jalur Resmi Rinjani Kembali Dibuka, Cek Cara Daftarnya
-
Pasma Royce Jadi Kapolda Bali, Gantikan Daniel Adityajaya
-
MotoGP Mandalika 2026 Jadi Penggerak Ekonomi, BRI Perkuat Dukungan Pariwisata dan UMKM
-
Kobarkan Semangat Merah Putih, BRI Dukung Kontingen Atlet Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026