Muhammad Yunus
Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:01 WIB
Ilustrasi: Seismograf, alat pencatat getaran gempa bumi [Suara.com/ANTARA]
Baca 10 detik
  • BMKG mengerahkan tim gabungan untuk melakukan survei dampak gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores pada 18 Agustus 2026.
  • Survei teknis dan pemetaan mikro-zonasi bencana dilakukan di beberapa wilayah terdampak guna menyusun rekomendasi rekonstruksi bangunan yang aman.
  • Wilayah Flores telah mengalami 1.624 kali gempa susulan pascagempa utama, dan warga diimbau tetap tenang serta waspada.

SuaraBali.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan tim gabungan untuk melakukan survei makroseismik, pengujian karakteristik respons tanah, serta verifikasi dampak tsunami pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 Pulau Flores, Nusa di Tenggara Timur (NTT).

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto di Jakarta, mengatakan pengujian karakteristik tanah dilakukan melalui pengukuran mikrotremor dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) pada wilayah-wilayah terdampak.

"Tim dari pusat dan UPT BMKG itu melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW, untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan," kata dia, Selasa 18 Agustus 2026.

Dia menjelaskan hasil dari pemetaan teknis tersebut nantinya diproyeksikan sebagai basis pemetaan mikro-zonasi bencana, sekaligus menjadi landasan utama penyusunan rekomendasi rekonstruksi tata ruang dan bangunan yang aman gempa bagi pemerintah daerah maupun masyarakat setempat.

Survei teknis ini memprioritaskan kawasan dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka, untuk kemudian dibandingkan dengan area yang relatif tidak terdampak.

Selain kajian geologi, BMKG mencatat sampai dengan Senin (17/8) siang pukul 11.00 WIB telah terjadi 1.624 gempa susulan pascagempa utama, dengan 23 kejadian antara lain gempa bermagnitudo di atas 5,0 dan 59 kejadian dirasakan oleh warga.

Meski demikian Wijayanto berharap publik khususnya warga di Flores dan sekitarnya bersikap tenang, hindari bangunan yang retak, dan selalu mengakses pembaruan informasi kebencanaan melalui kanal komunikasi resmi BMKG sebagai basis kesiapsiagaan.

Load More