- Sebanyak 13 kloter jemaah haji Embarkasi Lombok telah diberangkatkan, sementara dua kloter terakhir akan menyusul pada Mei 2026.
- Jemaah haji asal NTB mengalami penurunan nafsu makan serta kendala adaptasi lingkungan, cuaca panas, dan perbedaan bahasa.
- Petugas terus memantau kondisi kesehatan jemaah yang mengalami kelelahan, dehidrasi, serta gangguan emosional selama berada di Arab Saudi.
SuaraBali.id - Sebagian besar kelompok terbang atau kloter jemaah calon haji dari Embarkasi Lombok sudah diberangkatkan.
Hingga saat ini, sebanyak 13 kloter sudah diberangkatkan dan tersisa dua kloter lagi yang akan diberangkatkan pada tanggal 8 dan 9 Mei 2026.
Dari belasan kloter yang sudah diberangkatkan sebagian sudah mulai secara bertahap menuju Mekkah menjalankan tahapan ibadah haji.
Akan tetapi, jemaah haji asal Provinsi NTB yang tengah menjalankan ibadah di Tanah Suci dilaporkan mengalami penurunan nafsu makan akibat perbedaan cita rasa makanan di Arab Saudi.
Meski demikian, secara umum kondisi jemaah masih dalam keadaan baik, dengan sejumlah kendala lain seperti cuaca, bahasa, dan lingkungan, disampaikan akhir pekan lalu.
Ketua Tim Kerja IV Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Mataram, dr. Ferry Wardhana, mengatakan makanan yang disediakan di Arab Saudi memiliki rasa yang berbeda dibandingkan dengan di daerah asal jemaah.
“Makanan di sini (di NTB red) berbeda dengan di Arab Saudi. Makanan kurang terasa di sana. Kalau di sini, kan, pedas dan itu yang menyebabkan kurang nafsu makan,” katanya Kamis (7/5/2026).
Selain faktor makanan, jemaah juga menghadapi kendala lain seperti kesulitan berbahasa, kondisi lingkungan yang panas dan berdebu, serta lokasi yang baru sehingga berpotensi membuat jemaah tersesat.
“Kendala bahasa, makanan, kendala lingkungan panas dan berdebu dan kemudian kendala tempat. Karena tempat yang baru jadi mudah tersesat,” ungkap dr. Ferry.
Baca Juga: Calon Haji Asal Mataram Ditolak Masuk Arab Saudi, Ternyata Ini Penyebabnya!
Ia menyebutkan, sejumlah jemaah mulai mengeluhkan gangguan kesehatan seperti batuk, pilek, dan sesak napas yang dipicu kondisi cuaca dan debu.
“Ini sudah mulai muncul karena di sana kan banyak debu, panas dan ada jemaah kita yang dari Bima banyak yang tersesat,” katanya.
Selain itu, petugas haji juga menerima laporan adanya jemaah embarkasi Lombok yang mengalami kondisi emosional hingga mengamuk. Hal tersebut diduga dipicu kelelahan, dehidrasi, serta faktor usia.
“Dia merasa Lelah dan tidak tahu sedang di mana. Ada yang demensia juga sebenarnya. Kalau di sini, kondisi masih stabil. Jadi karena Lelah, dehidrasi dan ketemu orang banyak itu yang memicu gejala ini,” ungkapnya.
Hingga saat ini, pemantauan terhadap kondisi jemaah terus dilakukan oleh petugas, termasuk penanganan terhadap kendala kesehatan dan adaptasi lingkungan selama berada di Tanah Suci.
Kontributor : Buniamin
Berita Terkait
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
Pilihan
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
-
Babak I Indonesia vs Bangladesh: Garuda Pesta Gol, Mitchell Baker Quattrick
-
Bahlil Jadi Menko Hilirisasi Baru, Bagaimana Nasib Proyek Batu Bara di Sumsel?
Terkini
-
Sopir Eks Pimpinan Ponpes di Lombok Diduga Cabuli 4 Santriwati
-
Polisi Geledah Toko Emas di Denpasar, Ini Kasusnya
-
Ratusan WNA Ditahan di Bali, Sejumlah Fakta Terbongkar
-
Bukan Isu, 15 'Tuan Guru' di NTB Terseret Kasus Kekerasan Seksual Santri
-
PT Asabri Ditipu Rp100 Miliar Dalam Proyek Kondotel Bali, Kok Bisa ?