- Dinkes Bali memperingatkan bahaya pembakaran sampah liar di Denpasar dan Badung karena memicu gangguan pernapasan serta kanker.
- Pembatasan penerimaan sampah di TPA Suwung sejak April 2026 menyebabkan masyarakat melakukan pembakaran sampah di area terbuka.
- Pemerintah terus memantau potensi kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut melalui sistem kewaspadaan dini bagi seluruh masyarakat.
SuaraBali.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali mengingatkan masyarakat mengenai bahaya asap hasil pembakaran sampah bagi pernapasan di tengah maraknya pembakaran liar di Denpasar dan Badung.
“Asap dari pembakaran ini mengandung campuran gas berbahaya dan partikel kecil PM2,5 yang dapat terhirup ke dalam paru-paru yang berdampak gangguan pernapasan akut dan kronis,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali I Gusti Ayu Raka Susanti.
“Kalau dari pembakaran sampah plastik bisa nitrogen oksida, sulfur dioksida, bahan kimia organik yang mudah menguap (VOC), belum lagi benzo a pyrene dan polyaromatic hydrocarbons yang keduanya telah terbukti menyebabkan kanker,” katanya di Denpasar, Rabu (15/4).
Untuk itu, Raka Susanti mengingatkan bahwa pembakaran sampah secara liar tidak diperbolehkan apapun jenisnya.
Sementara itu, di Denpasar dan Badung, pembakaran sampah marak di rumah-rumah dan ruang terbuka, terutama sejak Rabu (1/4), dimana Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan TPA Suwung hanya menerima sampah residu.
Dampak dari pembatasan sampah ini, banyak sampah masyarakat yang tidak diambil oleh swakelola, karena kewalahan dalam pemilahan dan penampungan sampah organik, sehingga muncul fenomena membuang sampah ke sungai hingga membakar di rumah atau lahan terbuka.
Atas tindakan tersebut, Dinkes Bali menyebut besar potensi orang yang menghirup hasil pembakaran ini mengalami infeksi saluran pernapasan akut (Ispa).
“Ispa sangat mungkin ya, karena keluhan pernapasan salah satunya disebabkan oleh pencemaran udara, maka diimbau menggunakan masker dan menghindari paparan asap,” ujar Raka Susanti.
Selain kepada masyarakat yang menghirup asap pembakaran sampah, para oknum yang melakukan tindakan tersebut juga diingatkan bahwa apapun jenis sampahnya tetap berbahaya.
Baca Juga: Kepsek SMP Wisata Sanur Murka, Sekolahnya Jadi Tempat Pembuangan Sampah
“Membakar sampah kayu dan ranting dapat menimbulkan dampak negatif serius bagi kesehatan manusia, jadi setiap pembakaran sampah, baik plastik atau kayu dan ranting tetap memberikan dampak kesehatan,” kata dia.
Munculnya gejala akibat asap pembakaran ini berbeda-beda, Dinkes Bali menyebut semakin banyak dan sering asap yang terhirup maka gejala penyakit pernapasan akan semakin cepat muncul.
Untuk itu, pihaknya terus memantau kondisi Ispa di Bali, apalagi Ispa merupakan salah satu penyakit yang berpotensi KLB, sehingga selalu dipantau bila ada kenaikan kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Ia mengatakan hingga saat ini belum ada lonjakan kasus, sehingga tidak ada laporan harian dari fasilitas kesehatan di tingkat paling bawah.
Jika mengacu dari data Dinkes Bali, terdapat 89.843 kasus penyakit pernapasan akut periode Januari-Maret 2026, atau naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 86.030 kasus.
Apabila di rata-rata, dalam satu bulan fasilitas kesehatan di Bali menemukan 29,9 ribu kasus Ispa, dan hingga saat ini kondisi masih dinyatakan belum ada lonjakan, masih dalam lingkup rata-rata.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
Dukung Arahan Prabowo, BRI Siap Perluas Akses Rekening bagi Masyarakat Indonesia
-
WNA Asal Tiongkok Rekat Emas 10 Kg di Tubuh Demi Lolos ke Luar Negeri
-
Tanpa Ribet, Ini Keunggulan BRI Multiguna Pre-Approved Buat Penuhi Berbagai Kebutuhan
-
Langkah Pemkab Badung Ajukan Kasasi Atas Gugatan BTS Dinilai Tepat
-
Niat Nikahin Anak, Pria di Bali Malah Gasak Sertifikat Tanah dan BPKB Calon Mertua Senilai Rp83 Juta