Muhammad Yunus
Selasa, 17 Maret 2026 | 13:47 WIB
Ilustrasi: jika Hari Raya Nyepi tiba, di Pulau Dewata Bali akan berubah menjadi Pulau yang sepi bak tanpa penghuni [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Hari Raya Nyepi di Bali mengharuskan masyarakat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian selama satu hari penuh.
  • Perayaan ini melibatkan penghentian total aktivitas, termasuk pemadaman listrik dan transportasi, selama 24 jam.
  • Kondisi sunyi total saat Nyepi memberikan dampak positif signifikan terhadap lingkungan seperti peningkatan kualitas udara.

Berikut dampak lingkungan saat Nyepi di Bali:

1) Peningkatan Kualitas Udara

Dalam studi BMKG, menunjukkan adanya penurunan drastis konsentrasi partikulat debu dan gas polutan.

Langit Bali menjadi lebih bersih dari polusi udara dan emisi gas rumah kaca selama 24 jam.

2) Penghematan Energi dan Bahan Bakar

Penghentian transportasi darat maupun laut, dan penutupan bandara akan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil secara signifikan.

Hal ini berdampak pada penghematan subsidi bahan bakar dan devisa negara. Sehingga, konsumsi Listrik akan menurun hingga 60% dibandingkan dengan hari biasanya.

3) Pengurangan Polusi Suara

Alam akan diberi kesempatan selama 24 jam untuk menikmati keheningan, dan memulihkan diri dari kebisingan.

Baca Juga: Penyebab Antrean Puluhan Kilometer Menuju Pelabuhan Gilimanuk Jelang Nyepi

Karena tidak adanya aktivitas kendaraan, dan industri sehingga menciptakan ketenangan.

4) Pengurangan Polusi Cahaya

Saat Nyepi tiba, sumber Cahaya diseluruh Bali seperti lampu – lampu akan dimatikan. Semua sumber Listrik dimatikan, agar lampu di dalam rumah maupun di luar rumah tidak bisa dinyalakan.

Dengan keadaan yang gelap saat malam tiba, langit di Bali terlihat jauh lebih gelap dan bertaburan Bintang.

Hal ini memberikan kesempatan bagi riset astronomi dan mengurangi polusi Cahaya.

5) Restorasi Lingkungan

Load More