- Ritual tolak bala menjelang Imlek 2577 di Vihara Dharmayana Kuta menunjukkan akulturasi kuat dengan tradisi Hindu Bali.
- Akulturasi ini meliputi penggunaan sarana Hindu seperti canang sari dan tedung, dipraktikkan sejak pendirian vihara abad ke-18.
- Prosesi diakhiri dengan tarian Naga Liong dan Barongsai yang dipercaya mampu menetralisir energi negatif serta mendoakan kesejahteraan.
SuaraBali.id - Antusiasme menyelimuti Umat Budha dan Konghucu yang hendak mengikuti ritual tolak bala menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Vihara Dharmayana, Kuta, Senin (16/2/2026).
Tidak hanya umatnya, melainkan semarak atribut yang digunakan dalam prosesi tersebut.
Ratusan tahun lamanya sejak Vihara Dharmayana Kuta berdiri di Bali. Karena itu juga, tradisi masyarakat Budha dan Konghucu yang berada di sekitar Vihara juga mendapat pengaruh dari tradisi masyarakat Hindu yang menjadi mayoritas di Pulau Dewata.
Dalam pelaksanaan ritual tolak bala di sana, kirab mengelilingi sekitar vihara juga dilakukan untuk menetralisir energi negatif.
Nampak, sarana persembahyangan Hindu seperti canang sari juga menjadi sarana dalam ritual tolak bala di Vihara Dharmayana.
Berikut juga dengan atribut yang ikut menghiasi ritual tersebut seperti tedung atau payung untuk upakara Hindu Bali, hingga gebogan yang merupakan buah-buahan yang disusun untuk dijadikan persembahan.
Penanggung Jawab Vihara Dharmayana Kuta, Adi Dharmaja Kusuma menerangkan jika akulturasi tersebut sudah dipraktikkan sejak vihara tersebut didirikan pada abad ke-18.
Hal itu dilakukan leluhurnya sebagai penghormatan kepada Begawan atau pendeta suci Hindu di Bali kala itu.
“Jadinya akulturasi ini sudah sangat lama karena kita menghormati yang namanya Mahapatih, Begawan dari Bali,” papar Adi saat ditemui di lokasi.
Baca Juga: Sudah Dipenjara 5 Kali, Waria Ini Kembali Gondol Perhiasan Senilai Rp1,5 Miliar
“Sehingga kalau kita lihat sarana-prasarana umat yang melaksanakan persembahyangan, pasti sedikit tidaknya membawa canang sari,” tambah dia.
Selain sarana prasarana, nampak juga ibu-ibu PKK yang dilibatkan dalam kirab tersebut juga mengenakan kebaya Bali berwarna merah. Mereka menyiapkan persembahan termasuk canang di setiap persimpangan yang dilalui.
Doa dilakukan dengan menghadap ke setiap arah mata angin dan kemudian diikuti dengan tarian Naga Liong dan Barongsai.
Sekilas, persembahyangan tersebut juga serupa dengan tradisi Mecaru di Catus Pata dalam Agama Hindu yang juga dilakukan dengan persembahyangan di persimpangan jalan.
Tarian Naga Liong dan Barongsai menjadi pembeda dalam tradisi ini. Adi menjelaskan jika Naga Liong dan Barongsai bisa menetralisir energi negatif.
Tarian mereka pun menjadi pertunjukan yang paling dinanti dari masyarakat yang menonton pelaksanaan tolak bala.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Lima Tahun Holding Ultra Mikro, Jutaan UMKM Naik Kelas
-
Hiu Paus 8 Meter Terdampar di Pantai Pengeragoan, Mati dan Dikubur
-
Bule Geber Motor Depan Dirjen Imigrasi, Ketahuan Overstay Akhirnya Dideportasi dari Bali
-
Pura Desa Adat di Buleleng Terbakar, Beringin Berusia Ratusan Tahun Ikut Hangus
-
BRImo Taiwan Sabet Penghargaan Inovasi 2026, Permudah Transaksi PMI di Luar Negeri