- Komisi VI DPR RI membahas masalah utang proyek Whoosh dan mengusulkan Danantara terlibat tanpa APBN.
- Presiden Jokowi setuju proyek Whoosh karena terkesima teknologi kereta cepat Tiongkok pada 2015.
- Sosiolog Sulfikar Amir menilai Whoosh 350km/jam berlebihan; kereta 150km/jam lebih cocok untuk Jawa
Sulfikar menyebut bahwa sebelum akhirnya mengetahui soal Kereta Api cepat tersebut, Jokowi pernah mencobanya secara langsung.
Melihat teknologi yang begitu canggih dan belum tersedia di Indonesia, saat itu menurut Sulfikar Jokowi langsung terpesona.
“Jadi Jokowi waktu berkunjung ke China, saya lupa tahun berapa mungkin 2015. Waktu itu dia naik kereta cepat dan disitulah dia terpesona,” jelas Sulfikar, dikutip dari youtube Abraham Samad SPEAK UP, Senin (20/10/25).
“Jokowi ini kan agak naif ya kalau soal teknologi, jadi dia pikir Kereta cepat buatan China itu sudah yang pualing maju,” imbuhnya.
Sulfikar mengatakan bahwa proyek Kereta Api Cepat Jakarta – Bandung ini merupakan proyek pertama untuk China.
“Kereta cepat Jakarta – Bandung itu adalah proyek kereta pertama China di dalam mengekspor teknologi perkereta apian mereka,” jelas Sulfikar.
Karena menjadi proyek yang pertama, saat peluncuran Whoosh di Indonesia, Sulfikar menyebut bahwa di Beijing mengadakan pesta besar – besaran.
Beijing saat itu menurut Sulfikar sangat bangga lantaran dapat mengalahkan Jepang untuk membuat proyek kereta api cepat di Indonesia. Sehingga hal ini bagi China adalah sebuah prestasi.
“Dan waktu kereta ini (Whoosh) mulai beroperasi hari pertama, kita kan biasa – biasa aja. Di Beijing ngadain pesta, orang – orang di Beijing itu wah sangat bangga sekali,” cerita Sulfikar.
Baca Juga: Alasan Koster Tak Ikut Saat Gubernur Lain Geruduk Menkeu Terkait Pemotongan TKD
“Karena ini adalah yang pertama, dan mereka berhasil mengalahkan Jepang. Jadi ini buat mereka adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Mungkin bisa jadi itu yang menjadi alasan buat Pemerintah Beijing untuk mendorong supaya proyek ini tetap berjalan, karena ada kebanggaan mereka juga itu disitu,” sambungnya.
Menurut Sulfikar, kondisi Pulau Jawa yang padat penduduk ini tidak begitu memerlukan kereta api cepat.
Terlebih untuk kereta yang memiliki kecepatan 350km/jam.
Menurutnya kecepatan 150km/jam saja sudah mencukupi untuk membuat sebuah teknologi tinggi di Indonesia.
Pasalnya, banyak kota – kota kecil di Pulau Jawa yang seharusnya diekspos dengan Kereta semi cepat dan bukan Kereta cepat.
Kontributor : Kanita
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
Terkini
-
Mulai Siapkan Dana Pensiun, BRI DPLK Tawarkan Kemudahan dan Bonus lewat BRImo
-
Kolektor Australia Bongkar Keindahan dan Filosofi Kain Tradisional Lombok
-
Benturan Keras di Kepala, Pendaki Asal China Jatuh Pingsan di Rinjani
-
Mobil Isuzu Elf Angkut 18 Wisatawan Terbakar di Bali
-
Nasib Warga Kampung Adat Sade yang Masih Tinggal di Pengungsian