- Buleleng berpotensi terdampak gempa megathrust dari zona subduksi selatan Bali.
- Guncangan kuat, tsunami, likuifaksi, dan longsor ancam wilayah Buleleng.
- Penelitian, tata ruang, penguatan bangunan, dan edukasi bencana diperlukan
SuaraBali.id - Kabupaten Buleleng, yang berada di bagian utara Pulau Bali, diidentifikasi berada dalam zona potensial terdampak gempa megathrust.
Ancaman ini bersumber dari zona subduksi di selatan Bali, sebagaimana diungkapkan dalam peta "Katalog Gempa & Tsunami BMKG" yang disusun oleh Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Dr. Daryono, S.Si, M.Si.
Meskipun peta tersebut tidak mencatat titik gempa besar secara langsung di Buleleng, lokasinya yang relatif dekat dengan zona subduksi selatan Bali menjadikan wilayah ini rentan terhadap dampak gempa megathrust.
Fenomena megathrust terjadi akibat pelepasan energi yang terakumulasi di zona subduksi, di mana lempeng tektonik Indo-Australia menyusup ke bawah lempeng Eurasia.
Potensi Dampak Signifikan
Gempa megathrust di selatan Bali berpotensi menimbulkan dampak signifikan di Buleleng, antara lain:
- Guncangan Kuat: Gelombang seismik dapat menyebabkan guncangan hebat, berpotensi merusak bangunan dan infrastruktur.
- Tsunami: Gempa megathrust di laut dapat memicu tsunami yang dapat mencapai pesisir Buleleng dalam waktu singkat, menimbulkan ancaman besar bagi penduduk dan aktivitas di wilayah pantai.
- Likuifaksi: Daerah dengan lapisan tanah lunak dan jenuh air di Buleleng dapat mengalami likuifaksi akibat guncangan gempa, menyebabkan penurunan tanah dan kerusakan bangunan.
- Longsor: Kawasan perbukitan di Buleleng rentan terhadap longsor akibat guncangan gempa, terutama jika didahului hujan deras.
Langkah Mitigasi dan Kesiapsiagaan Mendesak
Mengingat potensi ancaman tersebut, BMKG menekankan pentingnya langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan di Kabupaten Buleleng. Beberapa langkah yang direkomendasikan meliputi:
- Penelitian dan Pemetaan: Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik zona subduksi selatan Bali dan pemetaan detail daerah rawan bencana di Buleleng.
- Perencanaan Tata Ruang: Pembangunan infrastruktur dan permukiman harus mempertimbangkan potensi gempa bumi dan tsunami, dengan menghindari pembangunan di daerah rawan bencana.
- Penguatan Bangunan: Desain dan konstruksi bangunan di Buleleng harus memenuhi standar tahan gempa untuk mengurangi risiko kerusakan.
- Sistem Peringatan Dini: Pengembangan dan penguatan sistem peringatan dini tsunami krusial untuk memberikan informasi cepat kepada masyarakat pesisir.
- Edukasi dan Pelatihan: Masyarakat perlu diberikan edukasi dan pelatihan mengenai kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami, termasuk prosedur evakuasi yang aman.
Sebagai penutup, BMKG menegaskan bahwa meskipun Buleleng tidak berada langsung di zona subduksi, potensi dampak gempa megathrust dari selatan Bali harus tetap diwaspadai.
Baca Juga: Firasat Istri Nyata, Mayat KMP Tunu Pratama Jaya Kembali Ditemukan Setelah 3 Bulan
Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang komprehensif diperlukan untuk mengurangi risiko bencana dan melindungi masyarakat Buleleng dari ancaman gempa bumi dan tsunami.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 4 Mobil Keluarga Bekas 50 Jutaan: Mesin Awet, Cocok Pemakaian Jangka Panjang
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
Pilihan
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria