- Rocky Gerung melihat Purnawirawan TNI retak akibat beda pendapat soal pemakzulan Gibran.
- Ia anggap pemakzulan konstitusional meski sulit; pahami Luhut sebut itu "kampungan".
- Luhut sebut pemakzulan "kampungan". Rocky harap keretakan elit tak merembet ke publik.
SuaraBali.id - Pengamat Politik Rocky Gerung buka suara soal isu keretakan yang mulai tercium di kalangan para Purnawirawan TNI.
Hal ini muncul usai adanya dorongan soal pemakzulan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka.
Rocky menilai adanya keretakan di kalangan Purnawirawan TNI tersebut lantaran ada perbedaan pendapat soal isu pemakzulan Gibran.
Sebagian dari mereka bersifat netral, namun ada juga yang mendorong pemakzulan.
Selain itu tidak sedikit juga yang menganggap bahwa pemakzulan itu hal yang keterlaluan.
“Justru terbaca ada keretakan di kalangan Purnawirawan TNI itu,” ujar Rocky, dikutip dari youtubenya, Kamis (25/9/25).
“Sebagian mendorong pemakzulan, sebagian bersifat netral, sebagian justru menganggap pemakzulan itu semacam kebablasan. Pak Luhut mengambil posisi itu karena beliau ada di pihak pemerintah,” tambahnya.
Rocky menyebut bahwa ide soal pemakzulan tersebut merupakan ide yang konstitusional yang seharusnya dibiarkan tumbuh begitu saja.
Meskipun menurut Rocky pemakzulan terhadap Gibran tersebut cukup sulit untuk ditempuh, lantaran komposisi politik DPR masih dikendalikan oleh Koalisi Merah Putih.
Baca Juga: PSI Jadi Kendaraan Politik Jokowi? Rocky Gerung: Partai Itu Memang Disediakan untuknya
“Tetapi ide tentang pemakzulan itu ide yang konstitusional,” ucap Rocky.
“Jadi biarkan ide itu tumbuh walaupun sulit. Karena komposisi – komposisi politik di DPR itu tetap dikendalikan oleh koalisi Merah Putih yang mayoritas disitu itu,” sambungnya.
Perselisihan karena beda presepsi soal isu pemakzulan Gibran itu menurut Rocky sudah hal yang biasa.
Menurutnya, Partai besar seperti PDIP tentu akan memiliki poin tersendiri mengapa Gibran harus dimakzulkan, sehingga tidak bisa bertindak begitu saja.
“PDIP tentu punya poin yang lain, karena pengalaman partai itu dengan Pak Jokowi dengan Gibran juga dengan sendirinya berbeda dengan pengalaman Pak Luhut yang membantu Pak Jokowi,” ujarnya.
“Jadi kita harus membiasakan bahwa itu perselisihan presepsi biasa aja. Tentu PDIP tidak mungkin mengatakan bahwa pemakzulan itu yang dilakukannya. PDIP tetap punya poin kenapa mesti dimakzulkan. Karena tadi, pengalaman otentik Megawati dengan Jokowi, pengalaman otentik PDIP dengan Gibran itu adalah sesuatu yang betul – betul eksistensial,” tambahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp20 Ribu dan Rp10 Ribu di Tangerang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 3 Cara Melihat Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen: Resmi KSE dan BEI
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- 6 Sepatu Lari Lokal Berkualitas Selevel HOKA Ori, Cocok untuk Trail Run
Pilihan
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
-
Pelatih Al Nassr: Cristiano Ronaldo Resmi Tinggalkan Arab Saudi
-
WHO: 13 Rumah Sakit di Iran Hancur Dibom Israel dan Amerika Serikat
-
Bahlil Lahadalia: Bagi Golkar, Lailatul Qadar Itu Kalau Kursi Tambah
-
Gedung DPR Dikepung Massa, Tuntut Pembatalan Kerja Sama RI-AS dan Tolak BoP
Terkini
-
Langkah Cerdas Keluarga Muda: Hindari Drama Mertua dengan Rumah Impian via BRI KPR
-
Iseng Buka Aplikasi Setelah Bayar Tagihan, Keluarga di Bali Malah Dapat Mobil BYD M6
-
Kenapa Berat Badan Naik Setelah Puasa? 5 Menu Buka Puasa Ini Bikin Kenyang Tanpa Nambah Lemak
-
Penampakan 72 Unit Mobil Listrik untuk Operasional Pemprov NTB
-
Kunci Jawaban Pendidikan Pancasila Kelas III SD Evaluasi Halaman 116