Eviera Paramita Sandi
Senin, 11 November 2024 | 09:25 WIB
Wakil Presiden RI periode 2004-2009 dan 2014-2019 Jusuf Kalla bersama Presiden Dewan Dunia untuk Pengobatan Preventif, Regeneratif, dan Anti-Penuaan (WOCPM) Prof dr Deby Vinski (kanan) diwawancarai awak media di sela Kongres Internasional WOCPM di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (10/11/2024) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

SuaraBali.id - Provinsi Bali berpeluang menjadi tujuan wisata medis karena didukung akses dan fasilitas kesehatan. Pernyataan ini dikemukakan oleh Penasihat Senior Dewan Dunia untuk Pengobatan Preventif, Regeneratif, dan Anti-Penuaan (WOCPM) Jusuf Kalla.

“Jadi orang sambil menikmati keindahan Bali, datang untuk konsultasi atau berobat,” kata Jusuf Kalla di sela Kongres Internasional WOCPM 2024, Minggu (11/11/2024).

Menurut Wakil Presiden (Wapres) RI periode 2004-2009 dan 2014-2019 itu saat ini dunia mengenal dengan tren pariwisata medis atau pariwisata kesehatan.

“Tentu rumah sakit yang baik, dokter yang cakap, dan hospitality yang baik serta fasilitas pendukung lainnya,” ucap Jusuf Kalla.

Adapun potensi yang dimiliki Bali itu, bisa menarik Warga Negara Indonesia (WNI) yang selama ini kerap berobat ke luar negeri untuk beralih menjadi berobat di dalam negeri, salah satunya di Pulau Dewata.

Hal ini dilakukan sejumlah negara, salah satu di kawasan Asia Tenggara yakni Singapura.

“Jadi sambil orang datang karena ingin sehat, jadi bukan hanya memandang keindahan alam tapi bagaimana juga kesehatan,” ucap Jusuf Kalla.

Sedangkan presiden WOCPM Prof dr Deby Vinski menambahkan pelaksanaan kongres yang mempertemukan para dokter dan ahli dunia itu memperkuat posisi Bali yang diarahkan untuk menjadi destinasi wisata medis dunia.

Menurutnya potensi Bali sangat besar termasuk dengan mengembangkan terapi sel punca atau stem cells.

Baca Juga: Masyarakat Bali Diajak Periksa Bila Temukan Gejala TBC, Biaya Ditanggung BPJS Dan Global Fund

“Kami berkolaborasi, membangun jaringan, teknologi akan terus maju. Selain stem cells, kami nanti gabung dengan terapi gen,” imbuhnya.

Sementara itu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebutkan sudah ada 23 rumah sakit di Tanah Air yang ditetapkan sebagai rumah sakit wisata medis.

Kemenkes mencatat sekitar dua juta WNI berobat ke luar negeri, terutama ke empat negara yaitu Malaysia, Singapura, China, dan Thailand, dengan nilai nilai pembiayaan pengobatan keluar negeri sekitar 11,5 miliar dolar AS atau lebih dari Rp160 triliun. (ANTARA)

Load More