SuaraBali.id - Pantai Perancak, Jembrana, Bali dikenal memiliki banyak tempat yang baik untuk keberlangsungan hidup penyu hijau. Dulu kala, banyak masyarakat di kawasan tersebut memburu penyu untuk dikonsumsi. Padahal kini, penyu menjadi hewan langka yang dilindungi karena keberadaannya yang semakin sedikit.
Seorang pelestari penyu bernama I Wayan Anom Astika Jaya (58) sudah familiar di kalangan komunitas pelestari penyu khususnya penyu hijau di Pantai Perancak, Jembrana. Ia dulunya dikenal juga sebagai pemburu penyu hijau.
Namun kini, keberpihakannya dalam memberdayakan masyarakat dan lingkungan, diganjar berbagai penghargaan tingkat nasional.
Anak dari mendiang Wayan Tirta ini merupakan mantan ketua kelompok pemburu penyu hijau untuk dikonsumsi ini berburu puluhan tahun lalu.
Ia awalnya tidak mengerti jika yang dilakukan bapaknya salah. Anom mengatakan, ada 3 dari 7 jenis penyu di dunia yakni penyu hijau, penyu belingbing dan penyu sisik. Tetapi yang paling laku pada saat itu adalah jenis penyu hijau.
“Saya masih kecil diajak ikut berburu penyu hijau, ikut bapak bersama komunitas nelayan lainnya. Dagingnya dijual untuk dimanfaatkan saat ada upacara di desa kami,” ujar Anom Astika, asal Desa Perancak, Kabupaten Jembrana, Bali saat dikonfirmasi kabarnusa- jaringan suarabali.id, Kamis (12/10/2023).
Terus diburunya penyu untuk dikonsumsi ini membuat populasi penyu huja terus menurun hingga nelayan semakin jarang melihat lagi penyu hijau muncul ke permukaan air laut.
“Akhirnya kami sadar kalau penyu hijau adalah salah satu satwa yang harus dilindungi dan dilestarikan. Saya berpikir bagaimana memulihkan keberadaan penyu hijau di desa saya. Ada dilema bagi keluarga saya dan komunitas nelayan. Jika kami tidak menangkap penyu maka kami tak bisa makan karena itulah satu-satunya mata pencaharian kami. Apalagi Bali jadi sorotan dunia. Saat itu kami ada di persimpangan jalan,” beber Anom.
Ia pun bertekad mengembalikan kelestarian penyu hijau dan mengajak para nelayan lainnya untuk tidak lagi menangkap penyu hijau. Kendati saat itu Anom bingung bagaimana memulainya.
Baca Juga: Makna Ngaben Bikul di Bali, Para Warga Akan Terlebih Dulu Menangkap Tikus Massal
Berawal pada tahun 1996. Kala itu Anom mendapat kunjungan dari WWF (World Wide Fund for Nature) Indonesia. Dirinya menceritakan bagaimana penyu hijau mulai punah karena diburu.
“Pihak WWF Indonesia kemudian memberikan edukasi dan penyuluhan tentang pentingnya konservasi dan pelestarian lingkungan termasuk penyu hijau di Desa Perancak. Akhirnya pada Juni 1997, kami mendirikan Yayasan Kurma Asih yang bergerak dalam konservasi alam diantaranya pelestarian penyu hijau. Anggotanya para nelayan mantan pemburu penyu. Dan kami bersyukur sekarang jumlah penyu hijau sudah berangsur pulih,” kata Anom yang mulai aktif di tahun 1998.
Karena dedikasinya yang luar biasa terhadap lingkungan (eksplorasi laut dan pesisir), tahun 2000 lalu, Anom Astika dengan Yayasan Kurma Asihnya menerima penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional dari Presiden Gus Dur. Kemudian tahun 2017 menerima Penghargaan Kalpataru dari Presiden Joko Widodo.
“Bagi saya, penghargaan itu melecut semangat saya dan teman-teman untuk terus berkiprah sebagai garda terdepan dalam upaya penyelamatan lingkungan khususnya pelestarian penyu hijau,” tuturnya.
Ia akhirnya bergabung dengan Yayasan Kurma Asih mendirikan warung ikan bakar ‘Kurma Asih’ untuk melayani para tamu dan berbagai pihak yang berkunjung ke konservasi penyu tersebut.
Ia berharap nantinya Kurma Asih menjadi pusat konservasi dan edukasi khususnya penyu hijau. Nantinya, siswa TK hingga PT (Perguruan Tinggi) bisa belajar tentang konservasi alam/lingkungan di Kurma Asih.
Berita Terkait
-
Cara Asyik Menikmati Momen Healing dengan Sauna hingga Kuliner Sehat di Ubud Bali
-
Tolak Main di Eredivisie, Striker Bali United Jort van der Sande Menyesal Berkarier di Indonesia?
-
Prabowo Ungkap Penyebab Antrean BBM di Bali, Bukan karena Stok Menipis
-
Mau Liburan Natal dan Akhir Tahun Makin Berkesan? Ini Pilihan Aktivitas Seru di Bali
-
Tiga Srikandi TelkomGroup Bagikan Perspektif Kepemimpinan Perempuan di Bali Tech Week 2026
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi
-
Nikmati Promo Spesial Cashback BRI di Hari Sumpah Pemuda Pakai QRIS BRImo