SuaraBali.id - Ombudsman RI Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mendapatkan laporan pemotongan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah mahasiswa oleh salah satu kampus swasta di NTB. Dengan adanya laporan tersebut, Ombudsman akan segera lakukan pemeriksaan.
Kepala Ombudsman RI Perwakilan NTB, Dwi Sudarsono mengatakan sebelum pemeriksaan, pihaknya akan mengumpulkan bukti-bukti dan akan ada pemanggilan pelapor serta pihak-pihak terkait.
"Dan yang baru kita akan naikkan ke tingkat pemeriksaan. Kita pelajarin bukti-buktinya. kemudian kita panggil pelaporannya dan pihak-pihak terkait. Pengumpulan bukti-bukti dari pelapor dan pihak terkait," katanya Rabu (31/5/2023) pagi.
Ia mengatakan, modus-modus pemotongan beasiswa KIP kuliah mahasiswa diduga masih sama yaitu untuk membayar perkuliahan. Akan tetapi, Ombudsman RI Perwakilan NTB akan mendalami apakah sudah ada surat edaran atau surat keputusan yang dibuat oleh kampus.
"Modusnya kan pemotongan dipotong aja. Kita belum mendalami apakah sudah ada surat edaran atau surat keputusan atau bukti lain terkait mengapa harus dipotong," ujarnya.
Namun sambung Dwi, dari laporan sementara yang diterima ada pemotongan beasiswa. Laporan yang diterima ini berasal dari kampus swasta lain di Kota Mataram.
"Yang baru ini baru kita masukkan ke tahap pemeriksaan. Jadi belum kita periksa. Ini kampus yang berbeda. Yang baru ini sebentar lagi masuk ke tahap pemeriksaan. Swasta ini," katanya.
Setelah pemeriksaan nanti katanya, baru diketahui jumlah mahasiswa yang menjadi korban pemotongan dan jumlah beasiswa yang dipotong. Dari pemeriksaan yang dilakukan akan diketahui secara keseluruhan.
"Nilainya juga belum tahu. Yang lapor ini kan tidak semua mahasiswa lapor kan. Dalam tahap pemeriksaan dan sebagainya berapa jumlahnya, berapa nilainya itu nanti tahap pemeriksaan," ungkapnya.
Sementara dua kampus lain itu kata Dwi, saat ini sudah dalam tahap monitoring. Beasiswa sebagian mahasiswa akan dikembalikan oleh pihak kampus dan akan dilakukan secara bertahap.
"Kita beri batas waktu kira-kira bulan agustus semua sudah dikembalikan," katanya.
Dari dua kampus swasta yang sudah diperiksa sebanyak 636 mahasiswa menjadi korban pemotongan baik yang masih kuliah atau yang sudah tamat.
Jumlah beasiswa yang dipotong di dua kampus swasta tersebut mencapai Rp5,7 miliar.
Dari jumlah tersebut dirincikan, untuk Perguruan Tinggi di Lombok Tengah sebesar Rp3.877.800.000. Sedangkan PT yang di Mataram sebesar Rp1.878.500.000.
"Karena jumlahnya fantastis. Kayak kemarin Rp5,7 miliar. Kalau sebelumnya Rp5 miliar. Artinya ini kasus besar, sehingga menjadi prioritas kita. Bahkan pengembaliannya bisa mencapai Rp25 juta per orang," ujar Dwi.
Berita Terkait
-
Belajar Menjaga Harmoni dengan Laut Lewat Tradisi Tetulak Tamperan
-
Cara Lapor Kecurangan dan Kendala TKA 2026 ke Posko Pengaduan Ombudsman RI
-
Dua Bulan Pascakebakaran, Wisatawan Mulai Kembali Sambangi Desa Adat Sade
-
Studi: Krisis Air di Nusa Tenggara Barat Bebani Anak Perempuan
-
Harga Rp20 M tapi Cepat Rusak! Dugaan Korupsi Mesin Pengolah Sampah Pemkab Lombok Diusut Kejati
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida
-
BRI Borong 4 Penghargaan di Top 20 Financial Institutions Award 2026
-
Penyelam Tewas saat Menembak Ikan, Sempat Berteriak Minta Tolong
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern