Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Kamis, 28 Juli 2022 | 07:29 WIB
Konten creator asal Bali Yudist Ardhana. [Youtube]

“Informasinya sudah sampai hanya masih bingung, misal andai kata satu video tembus 1 juta views bisa dijadikan jaminan, belum tentu kedepannya terus menghasilkan konten tersebut, perhitungannya bagaimana masih belum tahu,” tuturnya.

Bahkan, Yudist malah bercerita, dia merupakan salah satu Youtuber yang taat bayar pajak tertinggi. Ia kini juga sudah berbadan usaha PT.

“Saya salah satu pembayar pajak teringgi, kalau Youtuber kan pajak professional setara dengan notaris, dokter tergantung income penghasilan, antara 15-30 persen, saya bayar pajak 30 persen dari penghasilan,” ungkap YouTuber alumni Universitas Pelita Harapan Karawaci dengan penghasilan ratusan juta rupiah itu.

Bangun Channel Youtube Tanpa Modal

Baca Juga: Konten Youtube Bisa Jadi Jaminan Utang, Indra Sasak Mengaku Belum Berpikir ke Sana

Yudist menceritakan, awalnya channel YouTubenya dibangun tanpa modal yang kuat, ia butuh waktu selama 2 tahun untuk mematangkan chanel YouTubenya menggali ide-ide kreatif yang menjadi segmen tontonan masyarakat.

“Tahun pertama 2016 itu masih struggle, dua tahun berikutnya baru establish, konten creator harus inovatif gaya penyampaiannya, dari tahun 2016 saya sudah 4 kali ganti konten, konten pertama saya adalah sulap, dalam dua tahun sudah bisa memproduksi 200 video dan banyak belajar,” bebernya.

Penghasilan pertamanya sebagai Youtuber sebesar Rp 1.300.000,- itu pun sangat pas-pasan untuk produksi, tak ingin menyerah, Yudist terus berkreasi.

“Konten pertama yang saya buat adalah sulap duduk melayang di Lipo Mall Kuta, lalu merubah kertas jadi uang, sulap kartu dan lain sebagainya, tahun 2018 saya mulai dapat endorse bisa dikatakan besar nilainya dari situ mulai serius menekuni dunia konten creator, jadi tidak hanya bicara views tapi juga bisnis,” ujarnya.

“Konten creator sebenarnya problematikanya sama dengan televisi, problem terbesar adalah muncul bibit baru kreator baru , dan dituntut inovatif serta adaptif, saya beralih dari konten sulap, tahun  2017 prank, tahun 2018 eksperimen, tahun 2019 - 2021 familiy activity, tahun ini belajar lagi,” imbuhnya.

Yudist menceritakan sempat panen penghasilan waktu awal pandemi setelah kebijakan di rumah saja itu banyak penonton YouTube tahun 2020, namun menginjak tahun 2021 berbalik arah, banyak konten creator bermunculan.

Load More