Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Selasa, 03 Mei 2022 | 08:30 WIB
Uang kepeng atau Pis Bolong. [Foto : eonet.ne.jp]

"Kami berharap sesuai dengan kewenangan di Dewan Perwakilan Daerah agar turut bisa merekomendasikan produk-produk kami," katanya.

Untuk patung-patung yang terbuat dari uang kepeng, ia menjual dengan kisaran harga dari yang termurah Rp10 juta hingga yang termahal Rp75 juta.

Suksma Swacita menambahkan, uang kepeng yang diproduksi merupakan campuran sejumlah logam yakni tembaga, kuningan, timah, alumunium, emas, perak dan besi.

"Untuk bahan baku tembaga dan kuningan, kami menggunakan bahan baku dari barang-barang bekas dari para pengepul. Tetapi harganya juga naik dari sebelumnya Rp39 ribu perkilogram menjadi Rp85 ribu," ujarnya

Baca Juga: Mahalini Ikut Rayakan Idul Fitri Dan Sungkeman Bersama Keluarga Rizky Febian

Sementara itu, anggota DPD Made Mangku Pastika mengatakan kunjungannya tersebut untuk menjaring masukan dan aspirasi dari para perajin UMKM terkait kondisinya di tengah pandemi COVID-19.

Ia mengapresiasi sejumlah upaya yang telah dilakukan rumah produksi KamasanBali sehingga tetap bisa memberikan penghidupan bagi para pekerjanya

Selain itu juga dalam upaya penyelamatan lingkungan dengan pemanfaatan barang-barang bekas untuk menjadi kerajinan seni yang bernilai tinggi.

Mengenai harapan agar produk KamasanBali dapat turut andil dalam penyelenggaraan Keketuaan G20 Indonesia, mantan Gubernur Bali itu mengupayakan untuk mengkomunikasikan.

Anggota Komite 2 itu pun memberikan masukan agar berbagai produk seni yang dibuat juga dilengkapi dengan cerita atau narasi, sehingga bisa terjual lebih mahal dan konsumen pun menjadi lebih mengerti.

Baca Juga: Tanah Lot Kembali Diramaikan Wisatawan di Libur Lebaran

"Kata marketing zaman sekarang, yang penting saat ini menjual narasi, bukan sekadar menjual produk atau barang," katanya didampingi staf ahli DPD Nyoman Baskara, Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja itu. (ANTARA)

Load More