Gubernur NTB Zulkiefliansyah bersama Kepala Sekolah SDN 3 Bukit Tinggi melihat kondisi sekolah sementara yang dibangun di atas tanah milik warga [Suara.com/Abdul Goni]
Saat berbincang dengan Gubernur, Kepala Sekolah SDN 3 Bukit Tinggi, menyampaikan bahwa direlokasinya tempat belajar mengajar karena lokasi awal tidak kondusif.
"Alat berat lalu lalang. Kita takut anak-anak nanti kenapa-kenapa. Ditambah tidak nyaman karena adanya ledakan-ledakan," terangnya.
Sariu juga menambahkan, bahwa sebelum direlokasi, bangunan sekolah juga rusak akibat gempa di 2018. Sehingga kondisinya semakin tidak memungkinkan untuk belajar mengajar setelah adanya pembangunan bendungan meninting.
Sisa-sisa dari bangunan lama tersebut pula yang dimanfaatkan untuk membangun sekolah sementara di tanah Abdul Said.
Kontributor: Abdul Goni Ilman Kusuma
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah
-
70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra
-
Anak-Anak Digerebek Bak Teroris, TGB: Bukan Ini Polisi yang Dicita-citakan Pendiri Bangsa!
-
Jelang Lawan Arema FC, Pelatih Bali United Keluhkan Masalah Ini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida