"Dari sesi pra session itu saya sudah mulai bekerja. Sebelumnya saya mengawal dari jarak jauh. Dan baru pada tanggal 2 Maret saya mulai dari tangkil dulu ke Pura Mayura. Kemudian bersedekah, dan diantar sopir saya dan tim juga memohon restu pergi ke masjid-masjid, gereja juga wihara di Lombok," jelas Rara, yang selama 21 hari mengawal Sirkuit Mandalika. Termasuk menjaga cuaca saat pengaspalan ulang trek Sirkuit.
Rara diketahui memang sudah sejak lama mempelajari ilmu "pawang hujan". Bahkan sejak dirinya masih kecil. Mulai belajar pawang sejak umur 9 tahun.
Rara memang telah diminta secara khusus oleh pihak penyelenggara yakin Mandalika Grand Prix Association (MGPA) dan Dorna untuk memastikan tidak turun hujan selama acara berlangsung.
Selama dirinya bertugas sebagai pawang hujan, Rara mengaku perintah bisa datang kepadanya sejam sekali lewat telepon.
"Mungkin untuk event MotoGP berikutnya akan melibatkan pawang lain, kalau bisa lokal. Karena Rara punya program akan melanjutkan sekolah. Jadi harapan Rara mudahan bisa terus mengawal untuk Indonesia, meski tidak harus Rara pawangnya," ungkap Rara, yang akan mengembangkan program Psikologi untuk pendidikannya.
Sementara itu terkait keberadaan pawang di MotoGP Mandalika, Wakil Direktur Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Cahyadi Wandi menjelaskan, pawang merupakan bagian dari kebudayaan dan kearifan lokal Indonesia.
"Ini (pawang) di Indonesia adalah hal yang biasa. Hal yang tadi itu membuat, percaya enggak percaya ya memang terjadi (hujan berhenti). Tapi kembali lagi ke kepercayaan kita masing-masing," kata Cahyadi, dikutip TribunLombok.com.
Cahyadi Wanda, apa yang dilakukan sang pawang tidak ada salahnya. Pihak MGPA tidak sengaja ingin menonjolkan keberadaan pawang. Tujuan mereka hanya satu yakni menyukseskan MotoGP.
"Kita tidak mensengajakan (setingan) apa apa, tapi kita kan berupaya, apa pun itu supaya cuaca membaik," katanya.
Jadi, segala upaya kita coba dan kami pun, menurut saya itu (pawang) tidak ada salahnya," sambung Cahyadi. Justru menurutnya, dengan aksi sang pawang mata dunia bisa melihat bagaimana kearifan lokal di Indonesia.
"Memang, itulah Indonesia, tidak ada yang salah," tandas Cahyadi Wanda.
Tag
Berita Terkait
-
MotoGP Mandalika 2026 Catat Dampak Ekonomi Rp5,2 Triliun
-
MotoGP Australia 2026 Gagal Total: Selamat Tinggal Phillip Island!
-
Marc Marquez Pimpin Klasemen Sementara, Gelar Juara Dunia Sudah di Tangan?
-
MotoGP Australia 2026 Batal! Marquez Tetap Kokoh, Harapan Veda Ega Pupus
-
Jadwal MotoGP Malaysia 2026: Apakah Jorge Martin Bisa Membalikkan Keadaan?
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah
-
70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra
-
Anak-Anak Digerebek Bak Teroris, TGB: Bukan Ini Polisi yang Dicita-citakan Pendiri Bangsa!
-
Jelang Lawan Arema FC, Pelatih Bali United Keluhkan Masalah Ini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida