Scroll untuk membaca artikel
Eviera Paramita Sandi
Rabu, 16 Maret 2022 | 09:15 WIB
Tangkapan layar CCTV aksi penganiayaan yang dilakukan dua orang anggota Satgas terhadap RV (17) di lapangan futsal My Stadium, Teuku Umar Barat, Denpasar, Bali, pada Minggu (6/3/2022). [Foto : Istimewa]

SuaraBali.id - Seorang gadis remaja berinisial RV (17) mengalami trauma atas tindak penganiayaan yang dia alami oleh dua orang pria dewasa hingga patah tulang lengan. Peristiwa yang terjadi di lapangan futsal My Stadium, Teuku Umar Barat, Denpasar, Bali pada Minggu (6/3/2022) ini pun juga viral di media sosial.

Viralnya kasus ini lantaran aksi penganiayaan terekam jelas melalui CCTV (Closed Circuit Television) tempat futsal tersebut dan tersebar luas di media sosial.

Dijumpai di Denpasar, Selasa (15/3/2022) sore, RV mengaku masih trauma atas kejadian menyakitkan yang dialaminya itu, selain itu ia juga sakit hati karena dikatakan mabuk dan kesurupan saat kejadian.

"Mereka bilang saya gadis mabuk, saya trauma mereka bikin sakit tangan saya sampai patah meruncing, sehingga harus dipasang pen, sekarang tangan saya tidak bisa digerakkan secara normal," ungkapnya.

Baca Juga: Bule Australia Jadi Korban Pencurian di Sanur, Uang Tunai Sampai Perhiasan Perak Digasak Maling

Saat kejadian menangis histeris karena kesakitan mengalami patah tulang lengannya, ia mengaku diintervensi agar korban tidak melapor ke ayahnya dan diminta diam apabila tidak akan diremas mulutnya.

Ibu korban, RA menyebut pun harus mengeluarkan uang sampai Rp 50 juta untuk pengobatan anaknya yang harus menjalani operasi di rumah sakit. Anna sangat tidak terima atas perilaku kasar yang menyebabkan putri tercintanya trauma dan kesakitan menderita patah tulang lengan.

Bahkan dikatakan dia, pelaku tidak menaruh rasa empati kepada keluarga atas perbuatan itu. RA pun mendesak terduga pelaku yang disebutnya dari satgas tersebut untuk dibubarkan karena sudah berlawanan dengan tugas, pokok dan fungsinya.

"Satgas dibentuk kan untuk melindungi tapi yang terjadi sebaliknya, malah menyakiti, jadi lebih baik bubarkan saja," beber RA.

Versi korban persitiwa bermula ketika saat itu RV datang ke TKP (tempat kejadian perkara) untuk menyaksikan tim futsal yang dimiliki ayahnya. Tim futsal itu diundang oleh Himpunan Keluarga Matawi Amahu Sumba Timur (Hikmast) bahkan tim itu menjadi juara dalam pertandingan.

Baca Juga: Ada Gambar Tengkorak Bertuliskan Love Never Die di Rumah Bule Spanyol yang Ditemukan Tinggal Kerangka di Benoa

Usai pertandingan korban yang datang bersama saudara sepupunya hendak masuk ke dalam lapangan lewat pintu barat untuk berfoto. Saat itu ia tidak bersama orang tuanya, karena ayahnya bekerja di Surabaya dan Ibunya bekerja di Nusa Tenggara Timur.

Load More