SuaraBali.id - Provinsi Bali dalam beberapa hari terakhir ini setidaknya dapat sedikit bernapas lega. Karena penambahan kasus harian COVID-19 sudah mengalami sedikit penurunan. Dibandingkan dengan kondisi pekan pertama hingga kedua Februari 2022.
Paparan COVID-19 varian Omicron pada Februari ini, telah menyebabkan lonjakan kasus baru di "Pulau Dewata" hingga melampaui rekor penambahan kasus baru ketika Bali diterjang COVID-19 varian Delta pada periode Juli-Agustus 2021.
Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 Provinsi Bali, rekor penambahan kasus harian tertinggi saat Bali menghadapi varian Delta tercatat sebanyak 1.957 orang.
Namun, karena varian Omicron, rekor itupun terlewati. Tercatat pada 9 Februari 2022, penambahan kasus harian COVID-19 di Bali mencatatkan rekor baru tertingginya sebanyak 2.556 orang.
Setelah mencatatkan penambahan kasus harian tertinggi tersebut, hari-hari berikutnya juga dilaporkan penambahan kasus harian masih di atas 2.000 orang, dan sempat turun dengan rata-rata kasus baru di atas 1.500 orang per hari.
Dalam tiga hari terakhir, tren penurunan kasus baru COVID-19 terus berlanjut. Pada 17 Februari 2022, kasus baru tercatat ada 1.445 orang, kemudian 18 Februari dengan 1.041 orang dan 19 Februari sebanyak 939 orang.
Sedangkan untuk pasien yang dilaporkan yang sembuh pun dalam tiga hari terakhir pun cukup tinggi yakni pada 17 Februari (2.111 orang), kemudian 18 Februari (1.912 orang) dan 19 Februari sebanyak 1.573 orang.
Kemudian untuk kasus meninggal dunia secara berturut-turut dari 17, 18, dan 19 Februari 2022 sebanyak 18 orang, 12 orang dan 20 orang.
Sekretaris Satgas Penanganan COVID-19 Provinsi Bali Made Rentin menyampaikan, meskipun penambahan kasus harian COVID-19 rata-rata di atas 1.000 orang per hari, hanya sebagian kecil yang sampai dirawat di rumah sakit (RS) rujukan.
Baca Juga: Pakar Ini Sebut Varian Omicron Lebih Berbahaya Ketimbang Varia Delta Secara Epidemologis
Jika melihat data, jumlah kasus aktif COVID-19 di Bali pada 19 Februari sebanyak 16.869 orang, yang dirawat di rumah sakit rujukan sebanyak 1.042 orang (6,18 persen).
Mayoritas mereka yang terpapar COVID-19 justru menjalani isolasi mandiri yakni 15.334 orang (90,9 persen) dan sisanya 493 orang (2,92 persen) dirawat di tempat isolasi terpusat.
"Yang dirawat di rumah sakit adalah mereka yang terpapar COVID-19 dengan gejala sedang dan berat. Sedangkan yang gejala ringan, ada yang dirawat di tempat isolasi terpusat, maupun menjalani isolasi mandiri," katanya.
Meskipun, kasus varian Omicron dengan cepat menyebar, namun diketahui juga gejalanya cukup ringan hingga pasien dapat pulih tanpa harus dirawat di rumah sakit.
Khususnya pada pasien yang sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19 dan tidak memiliki komorbid (penyakit penyerta), meskipun terpapar COVID-19, mayoritas dengan gejala ringan, bahkan ada yang tanpa gejala.
Menurut Rentin yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali itu, mereka yang meninggal dunia karena COVID-19 itu didominasi tiga hal yakni komorbid, kaum lansia dan belum divaksin COVID-19.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Jelang Kunjungan Prabowo ke Inggris, Trah Sultan HB II Tolak Keras Kerja Sama Strategis! Ada Apa?
-
Siapa Ario Damar? Tokoh Penting Palembang yang Makamnya Kini Dikritik Usai Direvitalisasi
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?