SuaraBali.id - Sejak dulu masyarakat Bali selalu mewaspadai adanya gangguan-gangguan metafisik terutama yang datang kepada seorang bayi. Salah satunya gangguan ilmu hitam atau magic.
Berbagai cara dilakukan untuk melindungi bayi salah satunya juga melindungi ari-arinya. Ada banyak keyakinian dan ritual yang dilakukan untuk melindungi.
Salah satunya seperti menerangi tempat ari-ari ditanam, menutup ari-ari dengan keranjang bambu, ada pula yang menutup ari-ari dengan anyaman daun kelapa atau klangsah. Masyarakat Bali percaya ini sudah sejak lama.
Tak jarang masyarakat meyakini bahwa bahwa bayi juga menjadi incaran penekun ilmu leak. Bukan saja berupaya melengkapi semua tahapan upacara seorang bayi.
Oleh sebab itu banyak orang Bali mencari perlindungan eksternal dengan meminta perlindungan kepada pakar spiritual, seperti Jero Mangku maupun Balian.
Lantas mengapa seorang bayi diyakini rawan gangguan dan diincar penekun leak?
Menurut penekun spiritual, Jero Master Made Bayu alias Bayu Gendeng, hal itu salah satunya berkaitan nyama papat sang bayi.
"Karena di usia Balita, nyame papatnya sedang merantau atau sering meninggalkan dia untuk mengenal dunia luas," ujar pria yang juga peramal profesional ini sebagaimana diwartakan beritabali.com – Jaringan suara.com.
Dia menerangkan, dalam keyakinan Hindu Bali, setiap kelahiran dibekali empat kehidupan yang terdiri dari air ketuban, darah, tali pusar, ari ari nanti akan bergelar bernama Sang Dengen, Sang Kala, Sang Preta dan Sang Anta.
Baca Juga: Cerita Rakyat Bali Calon Arang, Kisah Janda Tua Sakti Jadi Leak
Setelah kepus pungsed, Sang anta akan menjadi I Salahir, Sang Preta atau tali pusar itu jadi I Makahil, Sang Kala menjadi I Merkahir, sedangkan Sang Dengen jadi I Salabir. Sedangkan badan manusia itu bernama Lega Prana.
Seiring bertambahnya usia, nyama papat itu seseorang dengan tubuh manusia itu saling ingat ya saling mengingat satu sama lain. Namun umumnya pada umur 4 tahunan, keempat sosok itu kemudian akan ke segala penjuru.
"Nah di sinilah kadang-kadang itu bisa saling melupakan karena nyama papat itu sibuk mengenal dunia ini mulai memahami ke segala penjuru itu ke timur ke selatan ke barat dan Utara. Mereka saling belajar tentang kehidupan itu akan berubah menjadi anggapati prajapati banaspati Raja," urainya.
Dia menambahkan, anak yang masih kecil akan sangat rawan dengan serangan-serangan, baik dari keadaan cuaca alam maupun dari energi-energi gaib negatif.
"Oleh karena itu jangan sampai nyame papat gaibnya itu dilupakan. Karena nyame gaibnya itulah penjagaan utama dari serangan-serangan gaib," tutup Putra Klungkung ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi
-
Nikmati Promo Spesial Cashback BRI di Hari Sumpah Pemuda Pakai QRIS BRImo