Scroll untuk membaca artikel
RR Ukirsari Manggalani
Senin, 17 Mei 2021 | 15:28 WIB
[beritabali.com/ist/aswajadewata.com]

SuaraBali.id - Kata "Wali Songo" asosiatif dengan sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Bagaimana di Bali? Dikutip dari BeritaBali.com, jaringan SuaraBali.id, rupanya ada istilah "Wali Pitu di Bali". Apakah ada kemiripan?

Berdasar peninggalan sejarah, ada situs makam-makam Wali Pitu (wali tujuh) yang lokasinya menyebar di beberapa wilayah Kabupaten di Bali dan sekarang sudah di-Arabkan menjadi Sab’atul Auliya’(Tujuh Wali). Seperti dimuat dalam buku tentang Wali Pitu di Bali yang disusun KH Toyib Zaen Arifin, Sejarah Wujudnya Makam "Sab’atul Auliya", Wali Pitu di Bali, Ponpes Lirboyo, Kediri, 1998.

Adapun yang mengklaim sebagai penemu Wali Pitu pertama di Bali adalah lewat pengalaman rohani melalui proses yang diawali dengan petunjuk-petunjuk yang dialami oleh seseorang yang bernama Chabib Toyyib Zaen Arifin Assegaf itu sendiri. Beliau adalah Pengasuh Jam’iyah Manaqib Al Jamali (Jawa – Madura – Bali), Yakni pada bulan Muharam 1412 H / 1992 M.

Sesungguhnya istilah Wali Pitu yang ada di Bali awalnya tidak dikenal pada umumnya umat Islam sendiri di Pulau Dewata, namun lebih terkenal dan berasal dari pelaku wisata di Jawa sekitar 1990-an oleh para pelancong muslim yang berkunjung ke Bali sambil berwisata religi.

Baca Juga: Tragedi di Bali Utara 47 Tahun Lalu: Pan Am Flight 812 Tabrak Gunung

Istilah Wali Pitu di Bali ini awalnya diperkenalkan oleh agen travel wisata di Jawa yang dimulai dari Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah sampai Jawa Timur bahkan dari luar Jawa seperti di Kalimantan dan Sulawesi.

Para agen wisata biasanya menawarkan skema paket kunjungan wisata Wali Songo plus Wali Pitu di Bali dan tempat-tempat wisata favorit lainnya di Bali dengan memasang tarif tertentu.

Permasalahannya apakah betul yang disebut makam para wali oleh pihak pelaku industri pariwisata sebenarnya berasal dari luar Bali, dan benar-benar makam para Wali Allah atau bukan?

Istilah Wali Pitu yang kemudian menjadi ikon wisata rohani di Bali baru saja muncul beberapa tahun lalu yang sebelumnya tidak dikenal.

Mungkin hanya karena “Kepentingan Bisnis" semata dengan menggunakan makam-makam itu sebagai barang komoditi industri pariwisata yang kelihatan laku dijual sehingga fenomena ini dari segi ekonomi banyak yang mengambil keuntungan dan tentu yang paling diuntungkan adalah para agen travel, pemilik bus-bus pariwisata yang diperkirakan tidak kurang dari 50 bus atau memuat sekitar 2.250 orang setiap hari melaju dari Jawa, masuk Bali melalui pintu masuk pelabuhan penyeberangan Gilimanuk Jembrana (sebelum masa pandemi Covid-19).

Baca Juga: Wisata Bali: Pariwisata Belum Cerah, Badung Pilih Ekonomi Kreatif

Mereka berombongan untuk berkunjung ke makam-makam itu dengan berbekal niat para jama’ah peserta untuk bertabarruk (ngalap berkah) di tempat makam-makam para kekasih Allah itu.

Load More