Scroll untuk membaca artikel
RR Ukirsari Manggalani
Senin, 17 Mei 2021 | 15:28 WIB
[beritabali.com/ist/aswajadewata.com]

Biasanya musim-musim yang padat peziarah ke makam Wali Pitu di Bali ini adalah kebanyakan memilih berkunjung pada bulan Syawal atau Maulid yaitu pada masa liburan sekolah.

Memang dari segi ekonomi dalam hal ini tentu akan mengalir sejumlah rupiah ke pundi-pundi masyarakat setempat khususnya di kalangan Muslim di lingkungan makam itu karena dengan kunjungan wisata dari luar Bali yang tidak sedikit jumlahnya setiap hari tentu barang-barang jualan mereka akan laris terjual seperti jualan para pemilik warung-warung makanan dan minuman.

Kios-kios cenderamata dan dagangan para pedagang keperluan wisata lainnya akan laku pesat di saat kedatangan mereka di tempat itu. Meskipun memang saat kedatangan para pengunjung khususunya dari luar Bali tidak tertentu waktunya yang pasti namun dalam waktu setiap hari ada saja yang muncul.

Tapi baiklah kita mencoba sedikit memahami apa sebenarnya yang dinamakan dan dikategorikan sebagai “Wali Allah” itu. Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari “‘aduwwun” (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). Maka Wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah.

Baca Juga: Tragedi di Bali Utara 47 Tahun Lalu: Pan Am Flight 812 Tabrak Gunung

Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.” (Q.S Yunus : 62 – 64).

Apakah mereka yang telah diklaim sebagai Wali tersebut termasuk memenuhi kriteria seperti apa yang disebut pada definisi sederhana di atas ? Hal ini kemungkinan bisa saja kita hubungkan dangan definisi itu manakala kita tahu persis satu persatu sejarah perjalanan hidup mereka.

Akan tetapi permasalahannya adalah bahwa dari sekian banyak para pemilik makam yang diklaim sebagai Wali Pitu itu telah kehilangan jejak dan tidak seorangpun yang tahu persisnya sehingga kemungkinan besar banyak yang dikarang atau diakui oleh penyusunnya yang tidak sesuai dengan fakta dan bukti sejarahnya yang sebenarnya. Meskipun demikian tentu dari tujuh wali yang diklaim itu tentu sebagian ada yang clear atau jelas sejarahnya.

Adapun nama-nama yang diklaim sebagai Wali Pitu di Bali antara lain :

  1. Raden Mas Sepuh atau Pangeran Mangkuningrat (Keramat Pantai Seseh, Mengwi Badung)
  2. Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi (Keramat Bukit Bedugul, Tabanan )
  3. Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid di (Keramat Pantai Kusamba, Klungkung )
  4. Habib Ali Zainal Abidin Al Idrus (Keramat Bungaya , Karangasem)
  5. Syeich Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi (Keramat Karangasem)
  6. Syeich Abdul Qodir Muhammad (Keramat Karangrupit, Temukus, Buleleng)
  7. Habib Ali bin Umar Bafaqih (Keramat Loloan Barat, Jembrana)

Daftar ini adalah menurut versi buku Sejarah Wujudnya Makam Sab’atul Auliya’, Wali Pitu di Bali yang ditulis oleh KH Toyib Zaen Arifin (1998).

Baca Juga: Wisata Bali: Pariwisata Belum Cerah, Badung Pilih Ekonomi Kreatif

Sebab mengenai susunan yang tergolong Wali Pitu di Bali ini terdapat banyak versi dan hal itulah antara lain yang menunjukkan bahwa dalam penyusunannya tidak mempunyai kriteria tertentu sehingga menyebabkan penyusunnya kebingungan dalam menentukan mana yang harus dimasukkan dan mana yang tidak perlu.

Load More