SuaraBali.id - Buku dengan judul A Magic Gecko, ditulis seorang warga Jerman yang bekerja di perusahaan telekomunikasi Jerman, Horst Henry Geerken, berkisah catatannya dalam perjalanan darat dari Jakarta ke Bali, pada 1964.
Geerken yang tiba di Jakarta pada 1963, harus melakukan perjalanan ke Bali untuk ikut dalam proyek pembangunan Bandara Internasional Ngurah Rai yang saat itu disebut Bandara Tuban.
Geerken pergi ke Bali dari Jakarta dengan mobil bersama sopirnya. Sebagai persiapan, ia pun melengkapi diri selayaknya melakukan ekspedisi.
Bagasi mobil penuh dengan berkaleng-kaleng bensin, sekaleng air, seprai, kompor kecil untuk merebus air minum dan menyikat gigi, potassium permanganate untuk mencuci dan membasmi kuman pada buah-buahan.
Geerken juga membawa obat-obatan, semprotan nyamuk, pembasmi semut, DDT untuk kutu dan lalat, lilin dan korek api, lampu petromaks, pisau, teh, gula, biskuit, kertas wc, alat jahit, handuk, dan sebagainya.
Banyaknya bawaan membuat bagasi penuh dan hanya tersisa ruang untuk koper.
Buat Geerken, sopirnya, Sudjono, adalah orang yang bisa dipercaya. Cara menyetirnya pun membuat penumpang aman dan nyaman.
Sebagian besar jalanan di pedesaan yang dilewati waktu itu sangat menyiksa karena penuh dengan lubang-lubang besar sehingga mobil berjalan sangat pelan. Per atau as patah sering sekali terjadi selama perjalanan.
"Baru setelah Bandung kami mengambil istirahat pertama. Dengan suara keras, mobil Opel Admiral 2.8S berhenti dengan kasar di atas batu. Tangki bensin pecah dan bensin pun tumpah keluar mengaliri jalan," tulisnya dilansir BeritaBali, Senin (1/3/2021).
Baca Juga: Wisata Bali Akan Dibuka, Terapkan Free COVID Corridor
Dia mengambil sebuah pisang yang masih mentah dari salah satu pohon yang tumbuh di sepanjang jalan. Pisang diremasnya dengan sepotong sabun sehingga menjadi seperti permen karet.
Tangki yang ditambal ini berhasil membawa mobil sampai di Bali dan kembali ke Jakarta. Mobil ini menempuh 3.000 kilometer dengan perbaikan yang diimprovisasi dan tidak menemukan masalah.
Sopirnya selalu berangkat pagi hari karena udara masih sejuk. Tentu saja mobil waktu itu belum dilengkapi AC.
"Paling lambat, pukul lima kami berangkat sehingga saya bisa menikmati matahari terbit setiap hari. Mobil terkadang menabrak ayam yang banyak berkeliaran di jalanan," ceritanya.
Dia pun tidak mau ketinggalan matahari terbit di Jawa karena setiap hari seperti keajaiban. Pemandangan begitu indah dengan embun pagi yang masih menggantung, sawah membentang, dan pohon-pohon bambu dengan daunnya yang hijau.
"Sinar matahari pagi membuat pohon kelapa berkilau, warnanya hijau rimbun, membuat pagi cerah. Suasana pagi diselimuti kedamaianan dan kebahagiaan," tulis lelaki yang tinggal di Indonesia selama 18 tahun.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Heran Febrie Adriansyah Dipanggil sebagai Tersangka, Pengacara: Baru Kali Ini Kami Lihat
- Nasi di Rice Cooker Cepat Bau dan Kuning? Begini 10 Cara Mengatasinya
Pilihan
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
Terkini
-
BRImo Taiwan Sabet Penghargaan Inovasi 2026, Permudah Transaksi PMI di Luar Negeri
-
Sungai-sungai di Mataram Berubah Jadi 'Lautan Sampah' Saat Kemarau
-
DPLK BRI Kantongi Kehati ESG Award 2026 Berkat Konsistensi Terapkan Prinsip ESG
-
Dukung Arahan Prabowo, BRI Siap Perluas Akses Rekening bagi Masyarakat Indonesia
-
WNA Asal Tiongkok Rekat Emas 10 Kg di Tubuh Demi Lolos ke Luar Negeri