SuaraBali.id - Parisadha Hindu Dharma dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali meminta penyelenggaraan upacara Panca Yadnya ditunda hingga pandemi Covid-19 mereda.
Imbauan tersebut disampaikan melalui Surat Edaran bernomor 081/PHDI-Bali/IX/2020 dan 007/SE/MDA-ProvinsiBali/IX/2020.
Adapun upacara Panca Yadnya yang ditunda yakni yang bersifat ngewangun atau direncanakan seperti karya malaspas, ngenteg linggih, ngaben, ngaben masal, mumukur, meligya, yadnya (padiksaan), mapandes, mamukur dan nyegara gunung.
Dikutip dari Kabarnusa.com--jaringan Suara.com, langkah ini diambil karena pertimbangan data penyebaran Covid-19 di sejumlah daerah, termasuk di Bali yang kembali meningkat.
Sementara angka kesembuhan melambat dan klaster kemunculan kasus covid-19 banyak bersumber dari interaksi masyaraka.
"Upacara Panca Yadnya juga dapat dilaksanakan dengan melibatkan peserta yang sangat terbatas," kata Ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana dalam keterangan resminya di Gedung MDA Bali, Senin (14/9/2020).
Selanjutnya untuk setiap pelaksanaan upacara Panca Yadnya tetap mengikuti protokol kesehatan pencegahan dan penanggulangan pandemi Covid-19, seperti wajib menggunakan masker secara benar, menjaga jarak antar orang paling sedikit 1,5 meter.
Selain itu, menyediakan tempat mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer), mengutamakan Perilaku Hidup Bersih dan Sebat (PHBS), dan menolak kehadiaran orang yang menunjukkan gejala klinis, seperti demam, batuk, pilek, radang tenggorokan, dan sesak napas.
Sudiana melanjutkan, untuk Pujawali atau piodalan di Pura Kahyangan Jagat, Pura Dang Kahyangan, Kahyangan Desa Adat, dan pura lainnya, pelaksanaan upacara dilaksanakan sederhana.
Baca Juga: PSBB DKI, Erick Thohir: Kesehatan Utama, Rakyat Juga Harus Bisa Cari Makan
Pelaksanaan upacara diupayakan dapat dilaksanakan dengan ketentuan, maksimal 1 (satu) hari, kecualo ada ketentuan lain yang mengharuskan lebih daripada 1 (satu) hari dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat.
Persembahyangan di pura dilakukan dengan mengatur jarak dan bergiliran 25 persen dari daya tampung. Upacara tidak diringi gamelan atau tari wali.
Untuk upacara kematian Pitra Yadnya meninggal karena positif Covid-19 dilakukan dengan kremasi langsung sesuai protokol kesehatan.
Bagi yang meninggal bukan karena Covid-19, supaya dilaksanakan upacara makingsan di gni atau dikubur, kecuali Sulinggih dan Pamangku.
"Upacara dilaksanakan dengan sederhana dan jumlah peserta yang sangat terbatas tidak ada undangan atau bentuk keramaian lainnya," imbuh Sudiana.
Sementara untuk upacara Manusa Yadnya dilakukan sederhana tanpa resepsi. Setiap desa adat harus memastikan tidak adanya segala keramaian dan tajen di wewidangan desa adat masing-masing.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
Dukung Arahan Prabowo, BRI Siap Perluas Akses Rekening bagi Masyarakat Indonesia
-
WNA Asal Tiongkok Rekat Emas 10 Kg di Tubuh Demi Lolos ke Luar Negeri
-
Tanpa Ribet, Ini Keunggulan BRI Multiguna Pre-Approved Buat Penuhi Berbagai Kebutuhan
-
Langkah Pemkab Badung Ajukan Kasasi Atas Gugatan BTS Dinilai Tepat
-
Niat Nikahin Anak, Pria di Bali Malah Gasak Sertifikat Tanah dan BPKB Calon Mertua Senilai Rp83 Juta