- Telkom melalui Telin membangun kabel laut internasional untuk mengatasi lonjakan kebutuhan AI dan kerentanan geopolitik Timur Tengah.
- Konferensi BATIC 2026 di Nusa Dua Bali pada 26 Agustus 2026 dihadiri 2.700 delegasi dari 67 negara.
- Perairan Indonesia dijadikan jalur transit alternatif yang aman guna mendukung target ekonomi digital Indonesia hingga 2030.
SuaraBali.id - Kerawanan infrastruktur kabel laut internasional di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik global menjadi fokus utama para perusahaan teknologi global.
Saat ini, perairan Indonesia dinilai memegang peran vital sebagai jalur transit alternatif dunia untuk menjamin ketahanan konektivitas global sekaligus mendukung lonjakan kebutuhan Artificial Intelligence (AI).
Director of Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, menjelaskan bahwa pembangunan data center untuk mendukung teknologi AI di Indonesia tumbuh sangat masif, khususnya di wilayah Jakarta dan Batam. Kebutuhan konektivitas komputasi (compute connectivity) mengalami lonjakan yang cukup tinggi hingga lebih dari 10 hingga 20 kali lipat dari tahun ke tahun.
Namun, pesatnya pertumbuhan data center tersebut harus diimbangi dengan ketersediaan konektivitas global yang tangguh.
Baca Juga:Banyak Warga Israel Buka Bisnis di Bali? Ini Respons Gubernur Koster
Hal inilah yang mendasari PT Telekomunikasi Indonesia atau Telin terus fokus di pembangunan infrastruktur khususnya kabel laut internasional. Sebelumnya Telin sendiri sudah membangun kabel laut dari Singapura ke Amerika lewat perairan Indonesia namun ternyata itu saja tidak cukup.
"Untuk membangun kabel laut itu butuh waktu lima tahun. Tapi ini kurang dari satu tahun kapasitasnya sudah habis. Jadi kecepatan pertumbuhan demand jauh lebih cepat dari kita membangun infrastruktur," ungkap Budi dalam gelaran Bali Annual Telkom International Conferece (BATIC) 2026 di Nusa Dua Bali, Selasa (26/8/2026).
Sedangkan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, seperti di Selat Hormuz dan Laut Merah, memperlihatkan betapa rentannya jaringan kabel laut internasional dari risiko kerusakan dan gangguan pasokan (supply chain).
"Kondisi di Timur Tengah kan ya waktu perang di Iran kita banyak mendengarkan bagaimana rawannya kabel laut internasional yang melewati Selat Hormuz, kan kira-kira begitu, semua orang berbicara seperti itu.Padahal di Laut Merah, di daerah itu juga masih ada isu yang terkait dengan pembangunan ataupun pemeliharaan kabel laut. Nah kalau disana putus kita susah untuk terkoneksi misalnya ke Eropa dan lain sebagainya," ujar Budi
Menurutnya kini situasi geopolitik itu menjadi satu isu penting dalam jaringan komunikasi global.
"Bayangin kalau kabel itu terkonsentrasi di sana, kemudian terjadi gangguan karena perang dan sebagainya. Kabel putus itu impact-nya luar biasa, bukan hanya impact-nya di Timur Tengah tapi ikutannya ke belakang ini di Asia Tenggara dan sebagainya,” tambahnya.
Baca Juga:WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali
Budi menambahkan, strategi ketahanan konektivitas saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan dua rute kabel (backup sederhana). Pelaku industri membutuhkan diversifikasi jalur (alternative routing) agar terhindar dari titik rawan konflik seperti Laut Cina Selatan dan Timur Tengah.
"Ketika kita bicara membentuk infrastruktur, itu bukan masalah punya 1, 2, 3, atau 4. Tapi 1, 2, 3, 4-nya itu di mana? Lewat mana? Apakah di jalur yang sama? Kalau sama, ya sama saja bohong gitu kan, kalau ada apa-apa juga akan hilang," lanjutnya lagi.
Hal inilah menurutnya yang dilihat di Tekom Group sebagai peluang besar untuk menjadikan Indonesia ini sebagai pemain di regional karena ada 2 hal besar yang disorot, yaitu kondisi di Laut Cina Selatan, perang dagang, dan juga kondisi di Timur Tengah yang perang.
Telkom melalui Telin telah merintis jaringan kabel laut seperti Indonesia Cable Express (ICE) yang memanfaatkan keamanan perairan Indonesia untuk menghubungkan lintas benua secara langsung ke Amerika Serikat. Rute alternatif ini diharapkan mampu menarik investasi besar-besaran ke Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Dian Siswarini, menegaskan pentingnya penyiapan infrastruktur digital mumpuni untuk menangkap peluang ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan menembus USD 130 miliar pada tahun ini dan melampaui USD 360 miliar pada 2030.
"Kita harus bisa menerjemahkan potensi itu ke dalam infrastruktur digital yang mumpuni mulai dari konektivitas hingga platform yang berstandar internasional," imbuh Dian.