Ilusi Literasi di Tengah Serbuan Buku Impor di Bali Dan Eksistensi Bacaan Lokal

Antrean panjang di Big Bad Wolf Bali menunjukkan bahwa rendahnya literasi Indonesia bukan karena malas baca, melainkan kurangnya akses buku berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat.

Eviera Paramita Sandi
Selasa, 26 Mei 2026 | 13:30 WIB
Ilusi Literasi di Tengah Serbuan Buku Impor di Bali Dan Eksistensi Bacaan Lokal
Pembeli buku di ajang Big Bad Wolf 2026 di Bali, Senin (25/5/2026) [Suara.com/Eviera Paramita Sandi]
Baca 10 detik
  • Ribuan pengunjung memadati pameran buku Big Bad Wolf di Kuta, Bali, pada Senin 25 Mei 2026 untuk berburu buku.
  • Antusiasme masyarakat membuktikan bahwa rendahnya tingkat literasi di Indonesia lebih disebabkan oleh minimnya akses buku yang terjangkau.
  • Penyelenggaraan acara ini menjadi kebutuhan strategis bagi warga Bali untuk meningkatkan daya saing melalui penguasaan literatur bahasa internasional.

SuaraBali.id - Antrean yang mengular sejak pukul delapan pagi pada Senin (25/5/2026) di sebuah pusat perbelanjaan di Kuta, Bali menjadi pemandangan yang sekilas menggembirakan bagi dunia perliterasian Indonesia.

Ribuan orang berbondong-bondong memadati area seluas 3.200 meter persegi demi berburu buku dalam gelaran Big Bad Wolf (BBW). Padahal selama ini, narasi klasik yang sering digaungkan adalah bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, tingkat kegemaran membaca di seluruh provinsi Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat sebagai penduduk yang paling hobi membaca. Uniknya tidak ada satu pun provinsi dari Pulau Jawa yang berhasil menembus daftar sepuluh besar nasional termasuk, Bali.

Namun, benarkah demikian? Ataukah rendahnya literasi itu sebetulnya hanyalah akibat dari gagalnya negara dalam menyediakan akses buku yang merata dan terjangkau?

Baca Juga:Canggu Macet Parah, Wagub Bali Usul Taksi Laut dari Bandara

Fakta di lapangan menunjukkan anomali. Ketika buku-buku internasional berkualitas didekatkan ke hadapan publik dengan harga miring mulai dari Rp 5 ribu, masyarakat justru menyambutnya dengan ambisius. Hal ini memicu refleksi kritis bahwa masalah utama bangsa ini bukanlah malas membaca, bisa jadi disebabkan karena kelangkaan akses.

Toko buku besar yang menyediakan literatur bermutu masih sangat terbatas dan hanya berpusat di kota-kota tertentu.

Antrean pengunjung pameran di salah satu mal di Kuta, Bali, Senin (25/5/2026)
Antrean pengunjung pameran di salah satu mal di Kuta, Bali, Senin (25/5/2026)

Padahal menurut Founder Big Bad Wolf Internasional, Andrew Yap di negara-negara barat atau negara maju, membaca adalah bagian besar dari budaya mereka.

“Inilah yang coba dilakukan di event ini, menjadikan membaca bisa terjangkau dan upaya supaya menjadi dari budaya masyarakat, ujarnya pada Senin (25/5/2026).

Bali Dan Sektor Pariwisata Jadi Magnet

Baca Juga:Status Kritis! Danau-Danau di Bali Terancam Mati Akibat Pencemaran

Bali, dalam konteks ini, memegang posisi yang sangat unik di panggung global. Pulau ini bertindak sebagai magnet kosmopolitan yang mempertemukan berbagai bangsa.

Sektor pariwisata yang masif menuntut masyarakat lokal untuk memiliki kecakapan berbahasa Inggris yang mumpuni. Oleh karena itu, kehadiran bursa buku internasional berskala besar bukan lagi sekadar pemenuh hobi, melainkan sebuah kebutuhan strategis untuk meningkatkan daya saing global masyarakat Bali.

Dalam hal ini, pasar buku di Bali tidak hanya digerakkan oleh warga lokal. Berbeda dengan kota-kota lain, mayoritas penjualan buku di pulau ini justru disokong oleh para ekspatriat dan turis asing.

Uniknya perpaduan demografi di Bali mulai dari turis Eropa Timur seperti Rusia hingga wisatawan Barat menjadikan festival buku ini layaknya sebuah survei pasar global mini.

Fenomena membeludaknya pengunjung ini sekaligus membawa pencerahan penting di tengah gempuran era digital. Di saat banyak orang menduga gawai akan mematikan industri cetak, realitas justru menunjukkan arah sebaliknya.

Ada kejenuhan massal terhadap layar digital. Orang-orang, terutama para orang tua, mulai mencari pelarian fisik untuk anak-anak mereka melalui buku dan aktivitas nyata demi memutus ketergantungan pada ponsel pintar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini