“Kita sudah dari dulu tidak ada masalah dan toleransi sudah kuat antara suku Sasak dan suku Bali,” katanya.
Menurutnya, momen ini sangat bersejarah karena sebagai salah satu perwujudan toleransi yang kuat di Kota Mataram.
“Ini harus kita jaga. Kita saling rangkul dan ini mempererat persaudaraan kita,” katanya.
Selain menjaga toleransi, pawai ogoh-ogoh tahun ini diprediksi akan sangat meriah. Pasalnya, saat ini kawasan Pejanggik sangat ramai oleh pengunjung di pertokoan.
Baca Juga:Pedasnya Harga Jelang Nyepi & Lebaran: Cabai Rawit di Bali Tembus Rp130 Ribu Per Kilogram
“Jadi nanti mereka bisa berbelanja sambal nonton pawai ogoh-ogoh,” katanya.
Sebagaimana diketahui, Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang dibuat dari bahan ringan seperti bambu, kertas, dan styrofoam, yang menjadi bagian penting dari tradisi Hindu terutama di Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi.
Ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala (kekuatan alam semesta dan waktu) yang diarak dan kemudian dibakar.
Kontributor : Buniamin
Baca Juga:Kapolsek Kayangan Dicopot Buntut Kasus ASN Bunuh Diri Berujung Pembakaran Oleh Warga