Jaga Toleransi, Gambelan Ogoh-ogoh di Mataram Tidak Dibunyikan di Waktu Salat Jumat

Pawai ogoh-ogoh di Mataram diatur untuk hormati shalat Jumat. Aturan meliputi batasan waktu & larangan suara bising saat ibadah. Ini wujud toleransi umat beragama.

Eviera Paramita Sandi
Selasa, 25 Maret 2025 | 11:50 WIB
Jaga Toleransi, Gambelan Ogoh-ogoh di Mataram Tidak Dibunyikan di Waktu Salat Jumat
Seniman Ogoh-Ogoh di Mataram, Nusa Tenggara Barat sedang melakukan pengecatan [Suara.com/Buniamin]

“Kita sudah dari dulu tidak ada masalah dan toleransi sudah kuat antara suku Sasak dan suku Bali,” katanya.

Menurutnya, momen ini sangat bersejarah karena sebagai salah satu perwujudan toleransi yang kuat di Kota Mataram.

“Ini harus kita jaga. Kita saling rangkul dan ini mempererat persaudaraan kita,” katanya.

Selain menjaga toleransi, pawai ogoh-ogoh tahun ini diprediksi akan sangat meriah. Pasalnya, saat ini kawasan Pejanggik sangat ramai oleh pengunjung di pertokoan.

Baca Juga:Pedasnya Harga Jelang Nyepi & Lebaran: Cabai Rawit di Bali Tembus Rp130 Ribu Per Kilogram

“Jadi nanti mereka bisa berbelanja sambal nonton pawai ogoh-ogoh,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang dibuat dari bahan ringan seperti bambu, kertas, dan styrofoam, yang menjadi bagian penting dari tradisi Hindu terutama di Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi.

Ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala (kekuatan alam semesta dan waktu) yang diarak dan kemudian dibakar.

Kontributor : Buniamin

Baca Juga:Kapolsek Kayangan Dicopot Buntut Kasus ASN Bunuh Diri Berujung Pembakaran Oleh Warga

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini