Selam aini karena tak ada psikolog di tengah masyarakat membuat banyak orang menceritakan kondisinya kepada tokoh agama misalnya romo, pendeta atau ustadz.
Masalahnya, menurutnya tidak semua tokoh agama pun paham apalagi terlatih soal isu kesehatan mental apalagi dalam memberikan solusi psikologis.
"Karena kalau seseorang merasa semakin berdosa malah jadi semakin hilang semangat hidupnya. Jadi 'meja' untuk konsultasi kesehatan mental itu tempatnya memang khusus," tambahnya.
Ia menyebut masalah sehari-hari bisa saja menjadi pemicu terganggunya mental seseorang dan sudah sangat wajar bila dikonsultasikan ke psikolog.
Kebiasaan ini yang diterapkan masyarakat di negara maju hingga menjadi kesetaraan dalam layanan kesehatan mental.
Sayangnya masyarakat NTT, khususnya Kota Kupang, masih minim kesadaran akan itu bahkan menganggap buruk kebutuhan tersebut.
Masih ada anggapan yang kuat di masyarakat bahwa orang yang menkonsultasikan diri ke psikolog adalah orang yang sangat buruk kesehatan jiwanya.
"Sehingga kasus-kasus yang ada tendensinya ke bunuh diri itu sebenarnya bisa dicegah tapi kalau di kita bila tendensi itu muncul justru berhadapan lagi dengan stigma yang hidup di masyarakat kalau ke psikolog itu berarti gila, sebenarnya tidak," jelasnya.
Saat ini ketersediaan tenaga psikolog di NTT kebanyakan hanya dari lulusan Undana di Kupang dan Universitas Nusa Nipa di Maumere, Kabupaten Sikka.
Masyarakat juga belum banyak yang terpapar informasi mengenai pentingnya kesehatan mental sehingga lulusan psikolog perlu berperan di tengah masyarakat.