Sejarah Tari Kecak Bali yang Kini Jadi Banyak Disukai Wisatawan

Cak, Cak, Cak suara khas yang akan terdengar saat menikmati tarian ini. Tarian Kecak diperankan oleh 50 sampai 150 orang penari.

Eviera Paramita Sandi
Kamis, 24 Agustus 2023 | 18:29 WIB
Sejarah Tari Kecak Bali yang Kini Jadi Banyak Disukai Wisatawan
Sejumlah penari tampil saat pembukaan kembali atraksi wisata Tari Kecak Uluwatu di kawasan Uluwatu, Badung, Bali, Sabtu (31/10/2020). [ANTARA FOTO/Fikri Yusuf]

SuaraBali.id - Indonesia kaya akan seni dan budaya, salah satunya yaitu tarian tradisional. Disetiap daerah pasti memiliki tarian khas masing-masing.

Salah satu tarian yang berhasil dikenal sampai ke mancanegara adalah Tari Kecak Bali. Terdengar cukup familiar memang, namun apakah kalian tau bagaimana dengan sejarahnya?

Tari Kecak

Tarian tersebut berasal dari Pulau Bali. Pulau yang terkenal akan destinasi wisata yang cukup banyak. Dengan keunikannya menjadikan tarian tersebut disukainya oleh beberapa masyarakat pendatang yang berminat untuk mempelajarinya.

Baca Juga:Bule Angkat Barbel di Tengah Macet Viral, Warganet Heran

“Cak, Cak, Cak” suara khas yang akan terdengar saat menikmati tarian ini. Tarian Kecak diperankan oleh 50 sampai 150 orang penari.

Sesuai dengan namanya tari ini, terdiri dari para penari yang sebagian besar yaitu pria yang duduk bersila membentuk sebuah lingkaran. Pakaian yang dikenakannya tersebut berupa kain sarung dan kain kotak yang memiliki warna hitam putih seperti papan catur yang diikatkan melingkar ke pinggang penari.

Asal Tari Kecak

Melansir dari Gramedia, tarian tersebut merupakan salah satu tarian sakral. Tampak dari penari yang terbakar api, tetapi mereka tidak mengalami kesakitan dan tidak terbakar justru mereka menjadi kebal terhadap api.

Selain Tari Api atau Tari Cak, Tari Kecak juga dikenal dengan sebutan Tari Sanghyang yang ditampilkan ketika adanya upacara keagamaan.

Baca Juga:Dua Pemain Bali United Lolos Timnas U-17 Untuk Piala Dunia

Pada saat itu, para penari ini umumnya kemasukan roh halus, dan dapat berinteraksi dengan para leluhur atau dewa yang telah disucikannya. Penari ini dijadikannya sebagai media untuk menyampaikan sabda Nya. Ketika kerasukan, mereka pun melakukan tindakannya diluar dugaan. Contohnya yaitu melakukan beberapa gerakan yang cukup berbahaya maupun mengeluarkan suara yang jarang sekali mereka keluarkan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini