Sedangkan menurut berbagai cerita rakyat bertempat tinggal di kawasan Melanting, sekitar satu kilometer dari Pulaki, menelusuri jalan kecil ke arah bukit.
Jadi berdasarkan sumber naskah-naskah lontar abad ke-16, ibu kota lokal bagi "manusia Bali tak kasat mata" ini ada di Melanting.
Keberadaan "wong samar" semacam ini menjadi satu bukti bahwa manusia tidak seorang diri di planet ini. Dan planet bumi tidak sekecil yang kita kira.
Kisah manusia berubah menjadi manusia tidak terlihat mengindikasikan bahwa ras-ras tersebut adalah manusia dari jenis lain yang tinggal di dimensi "Bhu-Mandala" atau Bumi besar atau "Jambu Dwipa" (bumi tengah).
Baca Juga:Bule AS Tewas Setelah Jatuh Terpleset di Jurang Gunung Agung
Para "wong samar" ini juga memiliki siklus kehidupan layaknya manusia. Bahkan di beberapa desa terpencil di Bali, mayat wong samar kadang ditemukan tergeletak di semak belukar dan akan lenyap setelah beberapa hari.
Beberapa desa melakukan upacara kremasi bagi mayat itu atau dikuburkan di pemakaman.
Di beberapa Desa di Bali masih ada sebagian orang yang menyimpan benda-benda yang diklaim sebagai pemberian wong samar. Ada yang menyimpan uang kepeng, tongkat, atau bahkan segulung rambut yang diyakini sebagai rambut wong samar.