Akan tetapi pihak Universitas Bali Internasional belum dapat memastikannya, dan hendak melakukan analisis lebih dalam.
"Kita deteksi dan analisis vegetasinya, benar tidak yang sama dengan yang ada. Mungkin tim botani kita ya, di farmasi UNBI ada 4 kepakaran, memang ada kepakaran bidang biologi farmasi jadi botani farmasi," ujarnya.
Sedangkan bila dilihat dari warnanya yang keunguan, umumnya mengartikan bahwa terdapat kandungan antioksidan yang tinggi.
"Kami juga lihat sudah ada yang meneliti juga kandungannya, itu juga dilihat dari metabolisme primer atau kandungan primernya seperti misalnya ada karbohidrat, protein, atau vitamin juga di dalamnya, cuma mungkin ini akan dilanjutkan lagi ke penelitian metabolisme sekunder," kata Manik di Denpasar.
Baca Juga:Pembayaran Pajak di Bali Terkumpul Sebanyak Rp 7,28 Triliun Hingga Akhir Tahun
Pernah Muncul dan Layu
Sementara ittu, Koordinator Prodi Farmasi Klinis itu mengatakan bahwa pada tahun 2020 tumbuhan serupa juga muncul di tempat yang sama, namun tak diperhatikan hingga akhirnya layu.
"Kemungkinan akan dikonservasi karena tumbuhnya kan sering, artinya tidak cuma saat ini saja. Mungkin didukung oleh lokasi di sana seperti tertutupi oleh tanaman yang lain, sehingga dia bisa hidup karena membuat makanannya sendiri," kata Manik menjelaskan kondisi bunga bangkai yang tumbuh di tanah lokasi pembuangan sampah organik sisa persembahyangan.
Rencananya, pihak Universitas Bali Internasional akan membiarkan tiga tanaman tersebut tumbuh sambil memperhatikan perkembangannya.
Sementara itu, Wakil Rektor II UNBI Dr. Lanang Rudiarta menyampaikan bahwa pihaknya ingin mengembangkan dan mempelajari tanaman langka tersebut, khususnya bagi mahasiswa.
Baca Juga:Masyarakat Diingatkan Agar Berupaya Mencegah Konflik Sosial Selama KTT G20 di Bali
"Jadi kebetulan kita punya tempat tanaman obat, ya mungkin teman-teman dari farmasi akan meneliti apa khasiat obatnya kemudian bagaimana tumbuh selanjutnya, bagus lah ini untuk pembelajaran, dikasih di sini mungkin disuruh belajar," kata dia.