Ical yang juga anggota dewan DPRD kota Mataram ini menerangkan, objek wisata Gunung Pengsong, di Kabupaten Lombok bisa dibilang bukan tempat wisata biasa. Ada banyak hal yang bisa dinikmati pengunjung di sini. Selain suasana alam dan panorama yang masih asri. Karena di puncak ini pula, terdapat sebuah tempat peribadatan umat Hindu, Pura Gunung Pengsong, yang merupakan Pura pertama dan tertua di Pulau Lombok.
Pura gunung Pengsong hanya sekitar 15 menit menempuh perjalanan dari kota Mataram.
Teduh dan sejuk, adalah kesan pertama ketika masuk ke kawasan wisata Gunung Pengsong. Beragam jenis pohon tumbuh rindang, beberapa diantaranya beringin berusia ratusan tahun dengan akar-akar gantung yang tebal.
Ada mata air yang bisa dijumpai sebelum mulai mendaki. Lokasi mata air ”Tirta Mumbul Sari” biasanya digunakan umat Hindu tahapan pertama sembahyang, sebelum ke tempat Pura Melanting di Jaba bawah/kaki gunung. Dan Pura Gunung Pengsong yang letaknya lebih tinggi.
Baca Juga:Piodalan di Pura Gunung Pengsong, Krama Hindu di Lombok Persembahkan Kerbau
Hingga kini, umat Hindu yang ngaturang atau beribadah di tempat suci ini bukan hanya datang dari Lombok, tetapi juga dari Bali, Jogyakarta, dan Jakarta. Jika ada pengunjung yang datang, ratusan ekor kera langsung menyambut dan mengelilingi mereka, ketika tiba di pelataran depan kawasan Gunung Pengsong.
Monyet-monyet ini menanti diberi kacang atau jajanan yang dibawa. Tingkah mereka menggelitik, ada yang berebutan makanan dan kejar-kejaran, ada yang hanya berani menanti di kejauhan. Mulai dari pejantan besar, hingga monyet betina yang mengendong bayinya.
Monyet-monyet ini juga akan selalu mengikuti pengunjung yang hendak mendaki puncak Gunung Pengsong, sepanjang perjalanan. Ada yang unik saat beribadah di Pura ini. Umat yang datang membawa banten, harus jeli jika tak ingin isi banten direbut kawanan kera sebelum dipersembahkan. Itu sebab beberapa pamedek dan pemangku pura, diberi ketapel karet untuk menakut-nakuti monyet.
Tapi jangan khawatir. Sebab, ketapel digunakan tanpa batu sehingga tidak menyakiti monyet-monyet yang lucu itu. Hanya dengan suara hentakan karetnya, monyet pasti menghindar dan lari menjauh.
Bila monyet-monyet datang hendak mengambil buah dan jajanan yang sedang dihaturkan dalam ibadah, karet ketapel pun ditarik dan dihentakkan. Monyet pun berlarian mendengar suara ketapel itu.
Baca Juga:Wisman yang Mendarat Langsung ke Lombok Jarang, Padahal Penerbangan Sudah Lama Dibuka