Sugiartha juga mengatakan bahwa seperti halnya para seniman lainnya, para penari itu telah dibawa ke pura terdekat di sekitar venue Art Centre Denpasar untuk dimintakan tirta atau air suci untuk menyadarkannya.
“Itu biasa di ISI juga kalau orang ujian seniman, habis tampil biasa kerauhan, kita bawa ke Pura,” terang dia.
Dirinya juga mengungkapkan, bahwa tari Janger sendiri bukanlah tarian sakral, tetapi adalah jenis tari balih-balihan yang memang ditunjukkan sebagai bagian dari seni pertunjukan kepada masyarakat.
Pun begitu, walaupun bukan tarian sakral, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya kerauhan dalam setiap pertunjukan tari.
Baca Juga:Detik-detik Seusai Kecelakan Bus Maut di Tabanan, Deretan Mobil Dan Motor Ringsek di Jalanan
“Tidak, Janger kan bukan tari sakral, tapi kan tidak semua tari sakral ada unsur kerauhannya,” ungkapnya.
“Tapi kerauhan atau trance itu kan terjadi karena banyak factor, bisa karena terlalu bahagia, bisa juga karena sedang melampaui batas kesadaran, sekarang apakah ada roh masuk? Kan bisa saja begitu, ditengah-tengah kesadaran yang menurun. Kan kita memuja Dewa Lango, Dewa Siwa, berbagai dewa, mungkin saja ada masuk ,” jelas dia.
Nama Kontributor: Rahman