Catur Brata Penyepian, Internet di Bali Mati Untuk Menjaga Kesakralan Di Hari Suci Nyepi

Bukan tanpa alasan, PHDI ingin internet untuk menjaga kesakralan dan kekhusyukan Catur Brata penyepian.

Eviera Paramita Sandi
Senin, 28 Februari 2022 | 14:37 WIB
Catur Brata Penyepian, Internet di Bali Mati Untuk Menjaga Kesakralan Di Hari Suci Nyepi
Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 di kawasan Jalan Tol Bali Mandara, Bali, Kamis (7/3). [ANTARA FOTO/Fikri Yusuf]

Prof Sudiana berharap Nyepi di Bali mampu menjadi contoh bagi dunia dalam membangun kesadaran diri yang religius.

“Umat Hindu supaya dibiasakan tidak melakukan hiburan melalui medsos, internet, kemudian juga umat yang lainnya, tidak mengunggah bahasa-bahasa yang memancing kemarahan, emosi, tidak juga mengunggah peristiwa-peristiwa yang memancing kerukunan umat beragama bisa menjadi pecah belah, karena di medsos ditambah bumbu-bumbu yang bisa membuat panas masyarakat, mungkin saja bisa terjadi perpecahan atau kerusuhan,” paparnya.

"Dalam Nyepi supaya dominan ada doa dan pikiran terpusat untuk memuja Tuhan, mengendalikan diri, untuk membantu alam kembali pada rotasinya, tidak sakit dia. Jika alam sakit, maka diri manusia dan isinya ikut sakit,” sambung Prof. Sudiana.

Pada saat Nyepi, Umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian, meliputi Amati Geni tidak menyalakan api dan lampu, Amati Karya tidak berkegiatan dan bekerja, Amati Lelungan tidak bepergian dan Amati Lelanguan tidak mengadakan hiburan, rekreasi, bersenang-senang atau berhura-hura.

Kontributor : Yosef Rian

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak