facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kadisnav Benoa Minta Tindakan TNI AL Setelah Seringnya Kapal Asing Komplain Nelayan Tak Tertib Lepas Jaring

Eviera Paramita Sandi Kamis, 17 Februari 2022 | 09:51 WIB

Kadisnav Benoa Minta Tindakan TNI AL Setelah Seringnya Kapal Asing Komplain Nelayan Tak Tertib Lepas Jaring
Pelabuhan Benoa, Bali. [Foto : Istimewa]

Kadisnav Benoa pun meminta kepada TNI AL agar melakukan penertiban terkait banyaknya pelanggaran.

SuaraBali.id - Kepala Distrik Navigasi Kelas II Benoa, Azhar Karim mengaku sering menerima komplain dari kapal asing yang melintas di pemisahan alur laut atau Traffic Separation Scheme (TSS) Selat Lombok.

Ia menjelaskan, komplain tersebut dilontarkan karen kurang tertibnya para nelayan melepas jaring di sekitar jalur TSS Selat Lombok.

Kadisnav Benoa pun meminta kepada TNI AL agar melakukan penertiban terkait banyaknya pelanggaran yang terjadi di TSS Selat Lombok.

Hal ini disampaikan Kadisnav Benoa saat kunjungan kehormatan Komandan KRI Hiu - 634 Letkol Laut (P) Pungky Kurniawan di Vessel Traffic Service (VTS) Distrik Navigasi Kelas II Benoa Bali, pada Rabu (16/2/2022).

"Sering terjadi komplain dari kapal asing yang melintas alur TSS karena kurang tertibnya para nelayan melepas jaring di sekitar jalur TSS Selat Lombok," ungkapnya.

Kadisnav menyampaikan, untuk memonitor kegiatan kapal di laut secara lebih nyata, pihaknya juga mempersiapkan aplikasi e-motion untuk memonitor kegiatan.

"Yang di dalamnya terdapat info khusus berupa data kapal hingga kejadian laka laut secara realtime. Aplikasi e-motion juga bisa diakses melalui handphone," kata Azhar

Untuk kondisi lalu lintas di wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, dikatakannya, ada sekitar 60 kapal perharinya melintasi Alur TSS selat Lombok.

Sementara itu, Komandan KRI Hiu - 634 Letkol Laut (P) Pungky Kurniawan mengatakan tengah melakukan operasi gugus keamanan laut wilayah ALKI II dengan upaya penegakan di laut dari data menara VTS Benoa. Pungky bakal menindak tegas segala bentuk tindak pidana yang terpantau di menara VTS Benoa.

"Kami perlu data yg realtime sehingga KRI dapat melaksanakan pergerakan dengan efisiensi waktu dengan cepat ke lokasi kejadian," kata Pungky.

Komentar

Berita Terkait