facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Frekuensi Maskapai Internasional ke Bali Akan Ditambah Menjelang G20

Eviera Paramita Sandi Rabu, 26 Januari 2022 | 07:15 WIB

Frekuensi Maskapai Internasional ke Bali Akan Ditambah Menjelang G20
Menparekraf Sandiaga Uno di acara IKA 2021 di Piazza Gandaria City Mall, Jakarta, Sabtu (11/12/2021). (Suara.com/Lilis Varwati)

Penambahan frekuensi penerbangan maskapai rute penerbangan internasional sejalan dengan kerja sama travel bubble yang tengah dijajaki dengan berbagai negara.

SuaraBali.id - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan pemerintah akan mendorong bertambahnya frekuensi maskapai rute internasional masuk ke Bali. Hal ini dilakukan menjelang pelaksanaan G20. Ia juga mengatakan bahwa pemerintah akan mengatur ulang regulasi penerbangan untuk memudahkan lalu-lintas maskapai membawa penumpang.

“Bali akan disiapkan untuk mulai mendapatkan regulasi baru karena provinsi ini menjadi lokasi digelarnya berbagai acara internasional. Walau Bali sudah dibuka, penerbangan langsung belum bisa diwujudkan,” ujar Sandiaga dalam acara Weekly Press Briefing, Senin, 24 Januari 2022 sebagaimana dilansir beritabali.com – Jaringan Suara.com.

Penambahan frekuensi penerbangan maskapai rute penerbangan internasional sejalan dengan kerja sama travel bubble yang tengah dijajaki dengan berbagai negara.  Melalui skema ini, negara-negara yang menjalin kerja sama akan bersepakat untuk membuka perbatasan dan mengizinkan warganya bepergian di area tertentu yang telah ditetapkan.

 Saat ini Indonesia sedang melakukan pembahasan travel bubble dengan Jepang dan India.

“Sehingga pertemuan-pertemuan G20  yang akan digelar November maupun side event-nya bisa dilakukan dan penerbangan langsung yang awalnya belum optimal bisa diupayakan berjalan,” tutur Sandiaga.

Menurutnya juga beberapa maskapai asing telah menyatakan minat untuk membuka penerbangan langsung ke Indonesia melalui Bali. Sejak enam bulan lalu, maskapai dari Uni Emirate Arab, Qatar, Jepang, India, dan Turki sudah melakukan penjajakan dengan Indonesia.

“Nanti tinggal kita lihat, mana yang paling siap. Australia juga menjadi pilihan yang paling realistis karena banyak sekali keinginan dari wisatawan dari sana, tapi menunggu kesiapan pemerintah setempat,” ujarnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar

Berita Terkait