Bagi masyarakat Suku Sasak, gendang beleq tak hanya sekadar alat musik, gendang beleq memiliki nilai filosofis dan sakral. Selain memiliki keindahan di dalam wujud seni, gendang beleq juga menggambarkan jati diri dan jiwa kepahlawanan masyarakat Suku Sasak.
Para pemain gendang beleq (biasa disebut sekaha) terdiri dari dua orang pemain gendang utama. Dengan menggunakan baju adat tradisional Lombok beserta sapo (ikat kepala khas Lombok), sekaha memukul gendang yang menghasilkan irama menghibur.
Walaupun berukuran besar, berdiameter 50 cm dan panjang 1,5 m, sekaha tidak kesulitan memainkan gendang beleq. Dengan digantungkan di leher atau bahu, para pemain terlihat mudah membawa gendang yang menjadi bagian dari alat musik nusantara ini.
Pada kedua ujung gendang diberi ornamen berupa ragam hias berbentuk bunga dan daun, sedangkan di bagian tengah diberi hiasan kotak-kotak hitam putih berselang-seling dengan pinggiran merah. Warna-warna tersebut memiliki makna masing-masing.
Baca Juga:Antisipasi Omicron Saat Libur Nataru, Ini Langkah Polres Lombok Tengah
Merah melambangkan semangat, putih melambangkan kejujuran, dan hitam melambangkan semangat jiwa yang membara. Hal ini sesuai dengan fungsi gendang beleq pada awalnya, yaitu sebagai pemberi semangat pada para prajurit.
Bagian-bagian Gendang Beleq:
- Rempeng, yaitu penampang gendang yang terbuat dari kulit sapi.
- Batang, yaitu badan gendang yang dibuat dari kayu.
- Jangat, yaitu tali yang dibuat dari kulit.
- Wangkis, yaitu tali penguat yang melingkari rempang dan terbuat dari kulit.
- Penggulung, pembungkus kawat.
Satu kelompok kesenian gendang beleq terdiri atas 14 sampai 18 pemain. Namun, untuk penampilan gendang beleq yang baku pemainnya berjumlah 40 orang. Biasanya gendang beleq yang baku ini ditampilkan pada acara-acara khusus seperti Maulid Nabi dan lebaran.
Untuk dapat memainkan gendang beleq, pertama-tama seseorang harus belajar irama musiknya lebih dulu. Belajar memainkan gendang beleq dilakukan dengan cara peniruan, pertama latihan pukulan yang dilakukan dalam waktu kurang lebih satu pekan dan dilakukan setiap malam.
Pengalaman belajar Gendang Beleq inilah yang diceritakan salah seorang sekaha, Lalu Rifky Hidayatullah (19). Ia menceritakan bahwa memainkan dan belajar gendang beleq itu susah-susah gampang.
Baca Juga:Mobil Wakil Bupati Lombok Tengah Ringsek Ditabrak, Sopir Sebut Terpental 10 Meter
“Sebenarnya kalau dibilang susah ya enggak, tapi tempat yang bisa dibliang susah itu menjaga konsistensi dan ketekunan. Kadang saya Latihan setiap malam sampai larut,” katanya kepada Suara.com, Sabtu (4/12/2021).