alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pintu Masuk Wisman Dibuka, Kapolri Ingatkan Kasus Kabur dari Karantina Jangan Ada di Bali

Eviera Paramita Sandi Sabtu, 23 Oktober 2021 | 15:44 WIB

Pintu Masuk Wisman Dibuka, Kapolri Ingatkan Kasus Kabur dari Karantina Jangan Ada di Bali
Kapolri Kapolri Jenderal Listyo Sigit dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meninjau pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Sabtu (23/10/2021). (Istimewa)

Untuk itu, Sigit meminta Satgas Covid-19 di Bali memastikan masyarakat atau wisatawan yang berkunjung melakukan karantina sesuai aturan, yakni lima hari.

SuaraBali.id - Kapolri Jenderal Listyo Sigit dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meninjau pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) di Pulau Bali, Sabtu (23/10/2021). Sebagaimana diketahui, Bali saat ini telah membuka akses penerbangan langsung bagi wisatawan asing dari sejumlah negara.

Untuk itu, Sigit meminta Satgas Covid-19 di Bali memastikan masyarakat atau wisatawan yang berkunjung melakukan karantina sesuai aturan, yakni lima hari. Selain itu ia juga menyoroti kasus warga yang meninggalkan karantina seperti kasus selebgram Rachel Vennya, jangan sampai terulang di Bali

"Tentunya ini juga menimbulkan kejenuhan-kejenuhan sehingga kemudian dipikirkan juga di area karantina tersebut ada bebeberapa kegiatan yang tentunya bisa diberikan menghilangkan kejenuhan tersebut," kata Sigit di Base Ops Lanud  I Gusti Ngurah Rai, Sabtu. 

Ia mencontohkan kasus di Jakarta dimana ada wisatawan domestik dari luar negeri malah kabur dari karantina.

"Satu sisi pengalaman di Jakarta ada wisawatan domestik yang bebergian ke luar negeri kemudian melaksanakan karantina kemudian meninggalkan tempat karantina, ini jangan sampai terjadi atau terulang di Bali khususnya karena kita akan buka jalur internasional," kata dia.

Ia mengatalan ada 19 negara yang diberikan kesempatan masuk wilayah Indonesia. Dari jumlah itu, ada 8 negara yang tingkat kasus hariannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia.

Sehingga hal ini perlu ada pengawasan dan pengecekan ketat untuk menekan laju kasus Covid-19.  Menurutnya, penting untuk melihat perkembangan dari negara asal turis datang.

Hal ini, agar Indonesia siap dan dalam setiap pengecekan lebih hati-hati.

"Dan ini menjadi penting karena ada risiko yang harus kita hadapi apabila kita menjadi kendor," katanya.

Ia mewanti-wanti agar pengetatan ini tak hanya terjadi di awal-awal. Namun di minggu berikutnya menjadi lebih longgar.

Komentar

Berita Terkait