Samar-Samar Dendangan Biduanita, Meski Kerap Dicolek Orang Mabuk Harus Tahan Banting

Sebelum pandemi Covid-19 menghantam, Rama dan timnya bisa mengantongi pendapatan kotor senilai Rp1 juta. Jumlah uang itu bisa didapatkan pada malam Minggu.

Eviera Paramita Sandi | Yaumal Asri Adi Hutasuhut
Senin, 11 Oktober 2021 | 19:05 WIB
Samar-Samar Dendangan Biduanita, Meski Kerap Dicolek Orang Mabuk Harus Tahan Banting
Penampakan dangdut gerobak di dekat Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. (Suara.com/Yaumal)

SuaraBali.id - Dia bisa memecah sunyinya malam di Ibu Kota. Pertunjukannya juga kerap dinanti-nanti karena dianggap bisa menjadi pelipur lara sesaat bagi kaum pinggiran yang beban hidupnya yang kian pelik. Namun keberadaannya hingga kini masih dipandang sebelah mata karena menjadi biduan dangdut jalanan.

Berjarak sekitar 100 meter dari Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, tepatnya di pinggir trotoar, suara biduanita dangdut Gerobak bernama Rama masih terdengar samar-samar, karena beradu dengan bisingnya suara sepeda motor dan mobil yang masih mengaspal di malam hari. 

Semakin dekat terlihat perempuan berusia 26 ini sedang menendangkan sebuah lagu dangdut dengan asyik. Tubuhnya sesekali menari-nari kecil, mengikuti alunan gendang yang berasal dari perangkat musik yang tersambung dengan pelantang suara di atas gerobak.

Rama tak sendirian di malam itu, ada beberapa pria yang ikut bergoyang mengikuti irama.

Dalam remang lampu jalanan, mereka syahdu berdendang dan bergoyang, melepas penat dari hingar bingar Ibu Kota.

"Kami mulai bisanya sekitar jam 10-an, nanti baru pulang sekitar jam tigaan, karena sudah mulai sepi," kata Rama saat  berbincang dengan Suara.com  pada Sabtu (25/9/2021) malam, seusai menendangkan tiga buah lagu permintaan dari penonton.

Di trotoar Stasiun Jatinegara, bukan hanya gerobak dangdut miliknya yang mangkal, ada sekitar lima sampai delapan gerobak bermuatan sound system berjejer dengan jarak masing-masing dua puluh meteran.

Di tengah bising jalanan, dan dendang musik dangdut yang saling bersahut, Rama bercerita banyak tentang profesinya sebagai biduanita dangdut gerobak yang telah digelutinya sejak 2017 silam.

Faktor ekonomi mendorongnya harus turun ke jalanan, mengumpulkan rupiah demi rupiah dari tarikan suaranya. Suami pertamanya saat itu tidak bekerja, sementara mereka telah memiliki tiga buah hati.

"Dari dulu dia (suami pertama Rama) ngizinin. Karena dia nganggur, jadi enggak nafkahi gitu," kata Rama dengan suara keras, karena kalimat yang terucap dari mulutnya tenggelam dihantam musik dangdut.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini