facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sejarah 'Desa Janda' Mertasari di Jembrana Bali, Tak Ada Laki-laki Karena Pembantaian

Eviera Paramita Sandi Kamis, 07 Oktober 2021 | 10:14 WIB

Sejarah 'Desa Janda' Mertasari di Jembrana Bali, Tak Ada Laki-laki Karena Pembantaian
Sungai Ijo Gading, Jembrana, Bali

Awalnya desa ini merupakan desa Hindu yang terletak di kampong muslim Loloan Barat dan Timur. Daerah ini dibelah oleh Sungai Ijogading.

SuaraBali.id - Pembantaian sadis pernah terjadi di hampir setiap jengkal daerah di Negara yang merupakan ibukota kabupaten Jembrana Bali. Salah satu daerah yang banyak diulas dalam sejarah Bali adalah Desa Merta Sari Loloan.

Awalnya desa ini merupakan desa Hindu yang terletak di kampong muslim Loloan Barat dan Timur. Daerah ini dibelah oleh Sungai Ijogading.

Dilansir dari beritabali.com, pada tahun 1965, Desa Mertasari adalah basis dari anggota PKI, khususnya Barisan Tani Indonesia (BTI).

Dan terjadilah pembantaian massal. Desa-desa sekitarnya yaitu Loloan Barat dan Loloan Timur, dikomandani oleh Tameng PNI didukung satuan Pemuda Ansor melakukan pembantaian terhadap laki-laki yang berasal dari Desa Merta Sari.

Inilah awal mula desa itu disebut menjadi Desa Janda karena semua laki-laki habis dibunuh dan hanya tersisa kaum perempuan saja. 

Di kawasan ini pun kerap ditemui kuburan massal yang mana memang ada di setiap jengkal tanah di Jembrana. Selain Tegalbadeng, Toko Wong dan tempat pembantaian serta kuburan massal, ada dua tempat yang menarik.

Pertama adalah sebuah sumur yang kemudian dinamakan Lubang Buaya di Desa Melaya. Sumur ini saat pembantaian PKI adalah tempat pembuangan mayat-mayat yang kemudian ditanami bambu-bambu. Masyarakat Melaya yang tahu akhirnya percaya bahwa sumur ini angker.

Kedua adalah sebuah pantai yang apabila masuk di jalan tanah terdapat papan nama bertulis Tempat Wisata Pantai Candikesuma. Di depan pantai terdapat dua bukit tinggi yang di atasnya berdiri pura.

Di atas bukit itulah dulu para anggota dan simpatisan PKI dijejer dan ditembak sehingga jatuh ke pantai dan mayatnya langsung hanyut ditelan ombak.

Sebagian besar penduduk di Kabupaten Jembrana yang telah berusia 60 tahun ke atas sangat tahu dan mengerti peristiwa pembantaian di Jembrana tahun 1965. Namun menurut sejumlah penulis, baik dari dalam maupun luar negeri, mereka memilih menutup mulut rapat-rapat, karena masih trauma.

Komentar

Berita Terkait