Wisata Bali: Krama Subak Desa Adat Bedha Laksanakan Ngaben Tikus

Acara digelar setelah 10 tahun dilakukan terakhir kali, tujuannya membasmi hama di area persawahan.

RR Ukirsari Manggalani
Jum'at, 07 Mei 2021 | 21:59 WIB
Wisata Bali: Krama Subak Desa Adat Bedha Laksanakan Ngaben Tikus
Ngaben Tikus yang digelar Krama Subak Desa Adat Bedha, Bongan, Tabanan [BeritaBali.com].

SuaraBali.id - Krama subak di Desa Adat Bedha, Bongan, Tabanan, Bali pada Rabu (5/5/2021) menggelar ritual ngaben tikus yang bertujuan untuk menghilangkan hama di areal persawahan.

Dikutip dari BeritaBali.com, jaringan SuaraBali.id, upacara ritual ini diikuti 10 subak di kawasan desa adat yang merasakan dampak serangan hama di lahan pertanian masing-masing. Utamanya yang disebabkan tikus. Dan uniknya, upacara ritual ini kembali digelar setelah 10 tahun.

Bendesa Adat Bedha, I Nyoman Surata menjelaskan bahwa prosesi upacara Ngaben Bikul ini adalah upacara Butha Yadnya. Sekalipun prosesinya hampir sama dengan upacara Pitra Yadnya atau ngaben untuk manusia.

"Intinya upacara Bhuta Yadnya. Cuma caranya mungkin sama seperti Pitra Yadnya. Bedanya, di Pitra Yadnya, setelah kembali Panca Maha Buta, upacara dilanjutkan dengan mamukur atau ngarorasin. Ngaben Bikul tidak. Hanya sampai di pantai saja," jelas I Nyoman Surata.

Baca Juga:Bule yang Lukis Masker Wajah di Bali Dideportasi

Lebih lanjut, disebutkan bahwa upacara Ngaben Bikul ini hanya digelar dalam waktu-waktu tertentu. Khususnya saat serangan hama terhadap tanaman milik petani tidak terkendali atau disebut "merana akeh".

Lewat upacara ini, atma dari hama penyakit tersucikan secara niskala. Sehingga dalam siklus kehidupan berikutnya, hama itu tidak terlahir kembali ke bumi sebagai hama perusak.

"Secara sekala mungkin dilakukan dengan usaha pengropyokan. Kalau niskalanya, sesuai dresta, kami melaksanakan Mreteka Merana," lanjut I Nyoman Surata.

Dia menyebutkan, selain dresta, upacara ini juga berpedoman pada beberapa sastra seperti Primbon Bali, Durga Dewa Durajana, Weda Puja Pitara Siwa, dan beberapa lagi.

Raja Tabanan Ida Cokorda Anglurah Tabanan yang turut serta dalam upacara itu ikut naik ke atas bade sepanjang perjalanan ke pantai. Lantas dilanjutkan prosesi nganyut atau menghanyutkan abu sisa pengabenan.

Baca Juga:Sanksi Tilang dan Pidana Bagi Travel Gelap yang Nekat Angkut Pemudik

"Usai dibakar dihanyutkan ke segara atau laut dengan harapan mereka dapat tempat yang layak. Atau dalam siklus kehidupan berikutnya tidak lagi menjadi hama," pungkas I Nyoman Surata.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini