Eko Faizin
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:01 WIB
Petugas melakukan penyisiran bangunan Pelabuhan Laurentius Say Maumere yang rusak akibat gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). [ANTARA FOTO/Gregorio J Gilbert/sth/nz]
Baca 10 detik
  • Badan Geologi Kementerian ESDM mengidentifikasi gempa magnitudo 7,7 di NTT memicu bahaya ikutan berupa tsunami, gerakan tanah, dan likuefaksi pada 15 Agustus 2026.
  • Analisis cepat menunjukkan indikasi likuefaksi di Waekokak-Mbay dan Nagekeo, serta tsunami kecil di Bonea, Selayar, berdasarkan kerusakan bangunan dan laporan keluarnya air tanah.
  • Badan Geologi mengirimkan Tim Penyelidikan Tanggap Darurat untuk memverifikasi lapangan dan menyusun rekomendasi mitigasi bagi pemerintah daerah serta masyarakat terdampak.

Dan jangan mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Masyarakat juga, tambah dia, perlu memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali menggunakannya, mematuhi rambu dan jalur evakuasi, serta menghindari daerah tebing yang berpotensi longsor, terutama saat hujan.

"Ke depan, penerapan kaidah bangunan tahan gempa harus menjadi bagian penting dari upaya mitigasi di wilayah rawan," tuturnya. (Antara)

Load More