- Tersangka berinisial YMA melakukan kekerasan seksual terhadap empat santri di pondok pesantren Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
- Pelaku diduga terpengaruh komunikasi melalui aplikasi media sosial Walla serta memiliki riwayat menjadi korban kekerasan di masa lalu.
- Polres Lombok Tengah menahan tersangka sejak 15 Mei, sementara LPA Mataram mendampingi rehabilitasi psikologis dan medis bagi para korban.
SuaraBali.id - Tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap empat orang santri salah satu pondok pesantren di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terungkap memiliki akun platform media sosial yang diduga menjadi saluran komunikasi pria penyuka sesama jenis atau gay.
"Medsos (media sosial) ini namanya Walla, seperti MiChat, WhatsApp, TikTok, tapi khusus untuk gay," kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram Joko Jumadi di Mataram, Selasa (19/5).
Dari penelusuran, platform media sosial satu ini dapat diakses secara gratis melalui toko aplikasi resmi Google Play Store dengan nama Walla: Obrolan & Pertemanan Pria.
Menurut Joko, tersangka telah terjebak dalam fantasi pada platform itu.
Ia menduga komunikasi pada aplikasi tersebut menjadi salah satu pemicu tersangka melakukan kekerasan seksual terhadap korban.
Ia juga menerangkan tersangka berinisial YMA berusia 25 tahun ini terungkap pernah menjadi korban saat menjadi santri di salah satu pondok pesantren di wilayah Jawa.
"Itu waktu dia aliah (pendidikan tingkat atas) di pondok pesantren di Jawa. Dia jadi korban (kekerasan seksual sesama jenis) di situ. Nah pulang nyantri, tidak direhabilitasi dan akhirnya dia terjebak dalam dunia itu, ditambah gabung medos Walla ini," ucapnya.
Sebagai pegiat antikekerasan seksual, Joko menyayangkan kasus semacam ini masih terjadi di lingkungan pondok pesantren tempat anak-anak mengenyam pendidikan agama.
Ia mengingatkan masyarakat agar lebih peduli tentang dampak dari persoalan ini, terutama pihak pondok pesantren maupun orang tua.
Baca Juga: Tiga Kasus Kekerasan Seksual Libatkan Oknum Polisi di NTB, Pengamat Hukum Ungkap Modus
Dari studi kasus ini, Joko melihat adanya kesempatan yang diambil tersangka sehingga dengan mudah memperdaya korban.
"Jadi, korban yang paling parah ini yang paling jelas tidak pernah dapat perhatian orang tua, tidak pernah dijenguk, ini yang menjadi PR (pekerjaan rumah) besar kita untuk pondok pesantren," ujarnya.
Kondisi tersebut yang kemudian dimanfaatkan tersangka dengan mulai mendekati korban, memberikan rasa nyaman seolah menjadi sosok pengganti orang tua.
"Ya seperti dipinjemin HP (handphone), dikasih makan, karena dapat perhatian lebih, korban pun teperdaya oleh tersangka ini," ucapnya.
Agar persoalan ini tidak menjadi rantai baru, LPA Mataram turut mengatensi pemulihan psikologis korban.
"Jadi, selain pendampingan hukum, LPA juga konsentrasi untuk proses rehabilitasi korban, baik dalam hal pemulihan psikologis dan medis," kata Joko.
Berita Terkait
Terpopuler
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- 9 Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah dan Menghilangkan Flek Hitam
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Tantowi Yahya: China Jauh di Depan dalam AI, Mahasiswa Bali Didorong Belajar ke Tsinghua
-
5 Jalur Resmi Rinjani Kembali Dibuka, Cek Cara Daftarnya
-
Pasma Royce Jadi Kapolda Bali, Gantikan Daniel Adityajaya
-
MotoGP Mandalika 2026 Jadi Penggerak Ekonomi, BRI Perkuat Dukungan Pariwisata dan UMKM
-
Kobarkan Semangat Merah Putih, BRI Dukung Kontingen Atlet Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026