- Rumah adat Bali bukan sekadar bangunan, tapi cerminan filosofi hidup Tri Hita Karana.
- Setiap bagian seperti Angkul-angkul, Aling-aling, dan Bale Manten punya fungsi spiritual & sosial.
- Bale Manten untuk kepala keluarga, Bale Dauh untuk tamu, dan Aling-aling penolak energi negatif.
SuaraBali.id - Melangkah ke dalam pekarangan rumah tradisional Bali adalah seperti memasuki sebuah kanvas hidup yang dilukis dengan filosofi.
Di sini, arsitektur bukan hanya soal struktur dan fungsi, tetapi sebuah cerminan mendalam dari tatanan kosmos, spiritualitas, dan harmoni sosial yang dipegang teguh oleh masyarakatnya.
Setiap elemen, dari gerbang hingga ruang tidur, memiliki peran dan makna yang terjalin dalam konsep luhur Tri Hita Karana keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Berikut adalah empat pilar utama yang menceritakan kisah di balik arsitektur Bali.
1. Angkul-angkul: Gerbang Penyambutan
Perjumpaan pertama dimulai dari Angkul-angkul, sebuah gerbang beratap jerami yang megah.
Fungsinya lebih dari sekadar pintu masuk; ia adalah jembatan simbolis antara dunia luar yang profan dengan ruang pekarangan yang sakral.
Desainnya yang menyerupai Candi Bentar menjadi penanda identitas sekaligus ucapan selamat datang yang hangat.
2. Aling-aling: Sang Penjaga Tak Kasat Mata
Baca Juga: Dari Ngendagin Hingga Nyangket: Perjalanan Spiritual Petani Bali dalam Setiap Butir Padi
Tepat di belakang Angkul-angkul, berdiri sebuah dinding pembatas rendah bernama Aling-aling. Keberadaannya bukan untuk menghalangi fisik, melainkan untuk menolak energi negatif. Dalam kepercayaan Bali, roh-roh jahat bergerak dalam garis lurus, sehingga Aling-aling memaksa siapa pun yang masuk untuk berbelok, secara simbolis menyucikan niat sebelum memasuki area utama rumah.
3. Bale Manten: Jantung Kesucian Keluarga
Di dalam kompleks, terdapat Bale Manten, sebuah ruang terhormat yang diperuntukkan bagi kepala keluarga dan anak perempuan yang belum menikah. Bangunan ini adalah simbol kesucian dan martabat keluarga, sehingga posisinya selalu dijaga dan dirawat dengan penuh kehati-hatian sebagai pusat kehormatan rumah.
4. Bale Dauh: Ruang Kehidupan Sosial
Terletak di sisi barat, Bale Dauh adalah panggung interaksi sosial. Di sinilah tamu disambut dan dijamu, menjadikannya ruang komunal yang penting. Selain itu, tempat ini juga sering menjadi ruang transisi bagi anak laki-laki yang beranjak dewasa, mempersiapkan mereka untuk peran sosial di masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?