- Investor saham di Bali tumbuh 20% menjadi 172.248 orang, didominasi oleh anak muda usia 18-25 tahun.
- Nilai kepemilikan saham investor Bali mencapai Rp6,21 triliun, tumbuh 30,43% hingga Juli 2025.
- Literasi pasar modal di Bali naik menjadi 17,78%, namun sayangnya tingkat inklusi justru menurun.
SuaraBali.id - Investasi saham di Pulau Dewata kini didominasi oleh investor muda dengan total jumlah investor saham per September 2025 mencapai 172.248 orang.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Bali mereka adalah anak muda dan usia produktif.
“Realisasi itu tumbuh 20 persen dibandingkan periode sama 2024 sebanyak 143 ribu,” kata Kepala Perwakilan BEI Denpasar I Gusti Agus Andiyasa di Denpasar, Bali, Senin (27/10/2025).
Ia menjabarkan berdasarkan kelompok usia, investor saham usia 18-25 tahun mencapai 30,1 persen, kemudian disusul usia 31-40 tahun sebanyak 25,6 persen, usia 26-30 ada sebanyak 24,4 persen dan sisanya sebesar 19,9 persen usia di atas 41 tahun.
Sedangkan dari sisi pekerjaan, investor saham paling banyak adalah pekerja swasta mencapai 41 persen, kemudian pelajar ada 18 persen dan wirausaha sebanyak 14 persen.
Para investor pasar modal baik saham, obligasi dan reksadana di Bali mencapai 338 ribu atau naik 15,5 persen dibandingkan September 2024 mencapai 292 ribu investor.
Sedangkan sebaran investor di Bali paling banyak berada di Kota Denpasar sebesar 32,6 persen, kemudian Kabupaten Badung 19,4 persen dan Buleleng 11,8 persen.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat hingga Juli 2025, nilai kepemilikan saham di Bali mencapai Rp6,21 triliun atau tumbuh 30,43 persen dibandingkan Juli 2024.
Sementara itu, nilai transaksi saham sebesar Rp3,54 triliun atau tumbuh 65,27 persen dibandingkan Juli 2024.
Baca Juga: Bukan Denpasar, Kota Ini Sebenarnya Yang Disiapkan Jadi Ibu Kota Provinsi Bali
BEI mencatat ada 29 galeri investasi di Bali dari 21 anggota bursa atau perusahaan efek.
Untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan, pihaknya menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat khususnya menyasar usia produktif untuk mendukung investasi di sektor pasar modal.
Berdasarkan survei nasional literasi dan inklusi keuangan OJK 2025, indeks literasi pasar modal 2025 mencapai 17,78 persen atau naik dibandingkan 2024 mencapai 15,43 persen.
Sedangkan indeks inklusi pasar modal 2025 mencapai 1,34 persen, lebih rendang dari 2024 mencapai 1,60 persen. [ANTARA]
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- PP THR dan Gaji 13 Tahun 2026 Diumumkan, Ini Jadwal Cair dan Rincian Lengkapnya
- Selat Hormuz Milik Siapa? Jalur Sempit Banyak Negara Tapi Iran Bisa Buka Tutup Aksesnya
Pilihan
-
Iran Tutup Pintu Negosiasi, Dubes: Kami Bereskan Musuh di Medan Perang
-
Fatwa Ayatollah Ali Khamenei soal Senjata Nuklir: Haram!
-
KPK Ungkap ART Fadia Arafiq Jadi Direktur PT RNB, Diduga Alat Korupsi Rp13,7 Miliar
-
Dua Hari Lalu Dinyatakan Gugur, Eks Presiden Iran Ahmadinejad Masih Hidup
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
Terkini
-
BRI Ajak Pemimpin Redaksi Perkuat Kolaborasi Media dan Transparansi Informasi di Bulan Ramadan
-
Stop! Badanmu Jadi Begini Jika Terbiasa Buka Puasa Makanan manis
-
4 Bencana Mengintai Jika Properti Anda Belum Bersertifikat SHM
-
Kunci Jawaban Ilmu Pengetahuan Alam Kelas IX Uji Kemampuan Halaman 190
-
BRI Dorong Dana Murah, Transaksi BRImo Tembus Rp7.076 Triliun di 2025