SuaraBali.id - Insiden jatuhnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, menjadi titik balik bagi pengelola Gunung Rinjani. Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) mengambil langkah cepat dengan mengumumkan perbaikan Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian.
Ini adalah upaya serius untuk mengantisipasi dan mencegah kecelakaan serupa di masa depan.
Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia, menegaskan bahwa perubahan SOP ini bertujuan meningkatkan kualitas, keamanan, dan kenyamanan di destinasi wisata favorit tersebut.
"Jadi ini untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan yang mendaki Rinjani," ujarnya di Mataram, Sabtu (12/7/2025) sebagaimana dilansir Antara.
Perbaikan ini tidak dilakukan sendirian. Aulia menyebut bahwa proses penyempurnaan SOP pendakian Rinjani merupakan hasil diskusi kelompok yang melibatkan berbagai pihak penting.
Mulai dari pelaku wisata, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Geopark Rinjani, akademisi, asosiasi pariwisata, forum Rinjani, hingga Majelis Adat Sasak (MAS) turut serta memberikan masukan.
"Banyak masukan dan saran agar bagaimana kita bisa memberikan kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan yang ingin mendaki ke Rinjani," terang Aulia.
Fokus pada Tata Kelola dan Penanganan Krisis
Selain perbaikan SOP pendakian, diskusi tersebut juga membahas pembentukan kelompok kerja khusus untuk tata kelola destinasi wisata Gunung Rinjani.
Baca Juga: Tidur Menggantung Dan Batu Longsor: Cerita Tim Evakuasi Juliana Marins di Rinjani
Ini termasuk rencana pembuatan posko terpadu serta manajemen komunikasi krisis yang efektif saat terjadi kecelakaan pendakian.
Aulia menekankan bahwa peristiwa yang menimpa Juliana Marins menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.
"Jadi peristiwa terjatuhnya Juliana Marins ini menjadi pengalaman berharga untuk seluruh pihak memperbaiki pendakian ke Rinjani.
Terutama, bagaimana melakukan penyelamatan dan evakuasi apabila terjadi sebuah insiden kecelakaan dalam pendakian, termasuk membangun komunikasi dan informasi terhadap publik jika terjadi insiden sehingga opini kepada publik itu bisa tercerahkan," pungkasnya.
Langkah proaktif ini diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan publik dan memastikan Gunung Rinjani tetap menjadi destinasi pendakian yang aman dan nyaman bagi seluruh pencinta alam dari berbagai penjuru dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Stop 'Open Dumping'! Menteri LH Ancam Pidana Penjara hingga 15 Tahun bagi Pemda Bandel
-
BRI Catat 43% Karyawan Perempuan, Capai 36.000 dari Total 86.000 Pekerja
-
Tiga Perempuan Dalam Jajaran Pemimpin BRI Cetak Prestasi di Infobank 500 Most Outstanding Women 2026
-
BRI Perkuat Keuangan Berkelanjutan: Salurkan Rp93,2 Triliun untuk Pembiayaan Ramah Lingkungan
-
Warga Serahkan Elang Tikus Terjerat dan Bayi Lutung ke BKSDA